Dalam UN, Posisi Guru Terjepit

Kompas.com - 28/01/2010, 19:17 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com- Upaya guru membocorkan soal akan selalu terjadi selama ada kesempatan. Hal itu akan ditempuh dengan berbagai cara, mulai membolongi meja peserta, menggunakan SMS, atau mendikte langsung jawaban soal Ujian nasional (UN), dan cara-cara lainnya.

Untuk itu, Kementrian Pendidikan Nasional harus melakukan terobosan yang benar-benar dapat mencegah kembali munculnya "tim sukses" yang merekrut guru-guru di sekolah-sekolah yang menggelar Ujian Nasional (UN) tahun ini.

Demikian terungkap dalam presentasi yang dipaparkan Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sulistiyo pada Diskusi Publik: Penyelenggaraan Ujian Nasional sebagai Alat Evaluasi Keberhasilan Pendidikan di Jakarta, Kamis (28/1/2010).

"Di Sumatera Utara, salah satu modus kecurangan yang terungkap tahun lalu adalah adanya seorang guru yang memperbaiki lembar-lembar jawaban siswa," kisah Sulistiyo.

Menurutnya, kemunculan "tim sukses" itu selama ini terbukti telah melakukan upaya-upaya negatif di sekolah-sekolah dengan tujuan meluluskan anak didik peserta UN. Upaya tersebut mulai dari membocorkan soal sendiri, membantu siswa membocorkan soal, hingga mengubah lembar-lembar jawaban.

"Ini aib memang, tapi harus diungkapkan karena telah terbukti terjadi. Namun yang harus diingat, selama ini gurulah yang menjadi subyek permasalahan tersebut. Guru telah terjepit oleh kepentingan banyak pihak demi memperoleh prestasi UN," tegas Sulistiyo.

Untuk itu, sambung Sulistiyo, Kemendiknas dan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) perlu menajamkan pengawasannya. Tetapi, penajaman tersebut bukan berarti kedua lembaga pemerintah tersebut memperketat pengawasan dengan melibatkan banyak pihak di luar guru.

"Tolong jangan memperbanyak komponen luar masuk ke sekolah, karena ini akan semakin melemahkan posisi guru. Yang harus dilakukan adalah mencegah terjadinya upaya-upaya penekanan terhadap guru hingga harus berbuat demikian," kata dia.

"Pemda menekan Dinas Pendidikan, kemudian Dinas menekan kepala sekolah, dan kepala sekolah lalu menekan guru, sampai akhirnya guru menekan siswa dan terjadilah hal-hal demikian," tambahnya.

Kiranya, pencapaian prestasi dengan cara pemeringkatan sekolah menggunakan hasil UN sebagai target peningkatan kualitas pendidikan secara nasional oleh pemerintah justru semakin membuat guru terjepit. Muara dari semua itu, tentu saja para anak-anak didik, yang dijadikan obyek peningkatan kualitas pendidikan itu sendiri.

"Berilah guru ruang untuk memperbaiki, berikan mereka kepercayaan, sehingga mereka juga bisa memberi kepercayaan pada anak-anak didiknya," ucap Sulistiyo.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau