Singapura Ubah Punggol Jadi Eco-Town Pertama

Kompas.com - 28/01/2010, 22:15 WIB

SINGAPURA, KOMPAS.com - Singapura saat ini sedang merencanakan mengubah Punggol menjadi eco-town pertama di negeri itu sebagai bagian dari cetak biru pembangunan berkelanjutan.
 
Rencana ini bertujuan agar dalam lima tahun ke depan, konsumsi energi di kawasan publik akan turun sampai 30 persen, sedangkan penggunaan energi di rumah tangga ditargetkan turun sampai 10 persen.
 
Housing and Development Board (HDB) Singapura menyebutkan, sebagai kota baru, Punggol dinilai sempurna untuk teknologi hijau. Ini termasuk fasilitas di dalam garasi dengan mobil elektrik dan panel solar untuk menghasilkan listrik.
                         
Menurut CEO HDB, Tay Kim Poh, "Kami akan  menyediakan lebih banyak tanaman hijau di dalam kota, taman di atap-atap rumah dan gedung. Bangunan akan dirancang sehingga memiliki ventilasi silang yang baik, dan para penghuni tidak perlu menggunakan mesin pendingin udara."
 
Sebuah skim percontohan di perumahan Serangoon dan Sembawang mengunnakan tenaga surya menunjukkan adanya penurunan konsumsi energi sampai 40 persen. Proyek percontohan ini akan diperluas ke perumahan-perumahan di Tampines, Marine Parade, Tanjong Pagar, dan Bukit Panjang. Ini bertujuan untuk memasang panel tenaga surya di 30 kawasan perumahan dalam lima tahun ke depan.  (Channel News Asia/KSP)
 
 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau