Trauma Konflik, Sekolah di Kwamki Lama Masih Tutup

Kompas.com - 29/01/2010, 04:46 WIB

TIMIKA, KOMPAS.com - Sejumlah sekolah di Kwamki Lama, Kelurahan Harapan, Timika, Papua hingga Kamis belum menggelar kegiatan belajar-mengajar (KBM) lantaran guru-guru dan siswa khawatir dengan konflik yang terjadi antardua kelompok warga di wilayah itu.

Beberapa sekolah di Kwamki Lama seperti SDI Kwamki I, TK Penuaian, dan SMP YPPGI Abdiel Tinal terlihat sepi tanpa kehadiran guru-guru dan siswa.
 
Pintu pagar SDI Kwamki I terlihat masih digembok rapat, sementara ruang kelas di SMP YPPGI Abdiel Tinal Kwamki Lama juga masih terkunci rapat.

Dua orang siswa kelas III SDI Kwamki I, Melianus Mom dan Enos mengatakan sejak memasuki semester genap awal Januari lalu hingga kini mereka belum juga masuk sekolah. "Sampai sekarang kami belum sekolah karena ada "perang" di Kwamki Lama," tutur kedua siswa yang beralamat di Jalur III Kwamki Lama itu.
     
Kedua siswa tersebut mengaku menghabiskan waktu berhari-hari dengan bermain dan kadang-kadang mengikuti orang tua dan kakaknya ke kota Timika. "Kami sudah bisa baca dan tulis," ujar kedua siswa yang tidak mengenakan alas kaki dan mengenakan baju kaos klub sepak bola AC Milan dan Persipura itu.

Kepala SMP YPPGI Abdiel Tinal Kwamki Lama, Marthin Muyapa mengakui dengan belum kondusifnya situasi kamtibmas di Kwamki Lama pascaprosesi perdamaian yang digelar pekan lalu, pihak sekolah belum berani menggelar KBM.

Apalagi keluarga besar SMP YPPGI Abdiel Tinal Kwamki Lama masih dirundung kedukaan atas meninggalnya Isodorus Edoway (13), siswa kelas VIII yang ikut menjadi korban konflik dua kelompok warga di Kwamki Lama.

"Sampai sekarang kami masih trauma, apalagi anak-anak. Kita tidak mungkin menggelar KBM jika situasi kamtibmas belum betul-betul aman. Jika dipaksakan, lantas kalau terjadi sesuatu dengan guru-guru dan anak-anak siapa yang akan bertanggung jawab," kata Marthinus.

Bupati Mimika, Klemen Tinal mendukung keputusan guru-guru dan penyelenggara pendidikan di Kwamki Lama untuk menghentikan sementara waktu aktivitas belajar-mengajar."Bagaimana mungkin anak-anak bisa sekolah kalau situasinya tidak aman. Nanti kalau sudah benar-benar aman baru sekolah lagi," kata Tinal usai menghadiri pelantikan Pimpinan DPRD Mimika di Timika, Kamis siang.
     
Klemen Tinal meminta Polres Mimika menangkap dan memproses semua pelaku pertikaian di Kwamki Lama. "Tangkap dan proses semua orang-orang yang terlibat pertikaian karena mereka melakukan tindakan kriminal," ujarnya.
     
Ia mengatakan, negara tidak membenarkan warga saling bertikai dan membunuh.
Budaya "perang suku", demikian Klemen Tinal, sudah dihapus dari bumi Mimika sejak penandatanganan kesepakatan perdamaian oleh semua suku di wilayah itu tahun 2004 di Timika Indah yang kini tempat itu dibangun sebuah tugu perdamaian Eme Neme Yauware.

"Polisi harus proses orang-orang yang melakukan tindakan kriminal, jangan dibiarkan," tegasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau