Wapres: Jangan Sampai Jadi Negara Industri Pansus

Kompas.com - 29/01/2010, 11:58 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil Presiden Boediono mengingatkan, praktik demokrasi Indonesia sekarang ini bisa mengarah pada kegagalan kedua seperti era demokrasi liberal tahun 1950-1957.

"Jadi kita perlu kaji ulang. Jangan sampai bangsa ini menjadi industri pansus. Apa pun masalah di-pansus-kan. Itu yang harus dicegah," ujar Ketua I Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Bidang Organisasi Kamrussamad, mengutip pernyataan Boediono, dalam keterangan pers seusai bersama Ketua Umum BPP Hipmi Erwin Aksa bertemu dengan Wapres Boediono di Istana Wapres, Jakarta, Jumat (29/1/2010) siang ini.

Erwin Aksa menambahkan, sekarang ini diperoleh informasi bahwa setelah Kasus Bank Century, Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-China (ASEAN-China Free Trade Agreement/ACFTA) pun akan di-pansus-kan oleh DPR.

Menurut Boediono, sebagaimana disampaikan Kamrussamad, dirinya khawatir terkait situasi politik sekarang ini terhadap perkembangan praktik demokrasi yang bisa mengarah kepada kegagalan sehingga terjadi delegitimasi terhadap pemerintahan seperti pada tahun 1950-1959.

Di tempat yang sama, Juru Bicara Wapres yang juga Staf Khusus Wapres Bidang Media Massa, Yopie Hidayat, membenarkan pernyataan Kamrussamad terkait situasi politik sehingga membuat pemerintah tidak efektif. Namun, ia meluruskan pernyataan Kamrussamad.

"Bukan industri pansus seperti yang disampaikan Kamrussamad. Yang dimaksud Wapres, jika kondisi politik seperti ini akan membuat pemerintah tidak efektif, apalagi kalau tiap tiga bulan selalu ada pansus-pansus," kata Yopie.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau