Pengalaman dengan Gay

Kompas.com - 29/01/2010, 13:55 WIB

KOMPAS.com - Pria ini berusaha menghilangkan kenangan masa lalunya ketika menjalin hubungan dengan seorang pria gay dan berusaha hidup normal sebagai pria heteroseksual.

"Saya seorang pria umur 29 tahun. Dua tahun lalu, waktu kos di Jakarta, saya pernah hidup dalam dunia gay. Selama dua tahun saya hidup bersama seorang pria yang umurnya setahun lebih muda. Selama itu saya mengalami hubungan seksual layaknya pasangan gay. Saya merasa aneh kenapa bisa melakukan itu, padahal sebelumnya saya bukan gay.

Dulu saya pernah punya pacar, kemudian putus karena masalah beda agama. Sewaktu pacaran, saya tidak pernah melakukan hubungan seks walaupun ada keinginan. Pacar saya selalu menolak kalau sudah sampai mau melakukan hubungan seks.

Sekarang saya menjalin hubungan lagi dengan seorang gadis berumur 25 tahun. Saya merasa mencintai dia, demikian juga pacar saya. Masalahnya, mengapa kalau berciuman dengan dia, saya sering teringat pacar gay saya dulu?

Sejak saya pisah dengan pacar gay itu, saya berusaha kuat agar tidak bertemu dia lagi. Dia kadang menelepon saya, tapi saya hanya tanggapi biasa-biasa saja. Kalau dia mulai menyinggung yang dulu, saya segera memutuskan teleponnya dengan berbagai alasan. Saya ingin hidup seperti pria normal.

Apakah saya seorang gay? Apakah saya bisa hidup normal seperti pria umumnya? Bagaimana caranya agar saya tidak terpengaruh lagi dengan apa yang saya lakukan dulu? Bagaimana agar bayangan masa lalu dengan gay itu tidak datang lagi?
M.K, Jateng

Upaya gigih
Salah satu penyebab perilaku homoseksual ialah pengaruh lingkungan, selain faktor lainnya. Kondisi selama kos di Jakarta tampaknya menyebabkan Anda bergaul dekat dengan pria homoseksual itu. Kedekatan itu kemudian berubah menjadi hubungan yang lebih pribadi, termasuk hubungan seksual.

Peristiwa seperti ini memang dapat terjadi. Inilah yang disebut sebagai faktor lingungan sebagai penyebab perilaku homoseksual. Jadi memang mungkin terjadi Anda yang dulu punya pacar perempuan kemudian menjalin hubungan homoseksual.

Masalahnya, sekarang Anda ingin hidup normal sebagai pria heteroseksual dan bayangan homoseksual masa lalu sering muncul. Inilah yang harus menjadi pergumulan Anda karena Anda sudah menjalin hubungan dengan seorang gadis.

Sikap Anda dengan tidak mau bertemu lagi dengan teman gay itu, sudah merupakan langkah yang sangat tepat. Apalagi Anda berusaha menjauh dari telepon teman lama itu. Sikap ini harus tetap Anda pegang dan lakukan.

Lebih jauh lagi, kalau bayangan masa lalu muncul, segeralah hilangkan dan jangan larut terbuai. Ingatlah seorang gadis pacar Anda yang mencintai Anda. Hanya dengan upaya gigih begitu Anda akan dapat melupakan masa lalu dan hidup sebagai pria normal heteroseksual.

Kalau Anda tidak mampu melakukan kontak homoseksual selama dua tahun setelah berpisah dengan dia, Anda harus mempertahankan untuk selanjutnya.

Konsultasi dijawab oleh Prof.Dr.dr.Wimpie Pangkahila, Sp.And

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau