Korban makin banyak

Sudah 100 Nasabah Melapor Rekeningnya Dibobol

Kompas.com - 30/01/2010, 07:55 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Nasabah korban pembobolan rekening via anjungan tunai mandiri yang membuat laporan kepada polisi terus bertambah. Hingga Jumat (29/1/2010) sudah 100 nasabah yang melapor. Namun, jumlah itu diprediksi lebih kecil daripada jumlah korban pembobolan yang sebenarnya.

Hal itu disebabkan masih ada korban yang sementara ini belum melapor kepada polisi dan berupaya menyelesaikan masalahnya dengan pihak perbankan saja.

Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Edward Aritonang mengatakan, nasabah yang melapor sebagai korban sebanyak 45 orang, pelapor dari luar Bali (termasuk DKI Jakarta) sebanyak 55 orang.

”Nasabah yang merasa menjadi korban sangat disarankan melapor kepada polisi, selain melapor kepada pihak perbankan. Hal itu dapat membantu penyelidikan polisi untuk mengungkap lebih luas jaringan pembobol ATM yang bermain,” tutur Edward.

Semakin banyak nasabah yang melapor akan membantu polisi mengindikasikan sejak kapan pembobolan rekening via ATM mulai dilakukan; apakah melibatkan sindikat besar atau sejumlah kelompok. Polisi juga dapat memetakan modus seperti apa saja yang dilakukan jaringan pembobol itu.

Semakin banyak modus yang terdeteksi, polisi dan pihak bank akan dapat mengetahui celah yang digunakan pelaku. Dengan demikian, sistem pengamanan ATM dapat dioptimalkan. Berdasarkan penangkapan terhadap Frans di Jakarta, polisi menemukan barang bukti, seperti komputer, kartu ATM, dan data sekitar 260.000 nomor PIN.

Menurut Edward, sejauh ini kerugian yang terdeteksi lebih dari Rp 6 miliar, sementara kerugian nasabah yang berasal dari Bali tercatat Rp 886 juta. Setiap nasabah dapat merugi sampai puluhan juta rupiah. Polisi sejauh ini juga telah menangkap seorang tersangka bernama Jamil, Kamis. Jamil merupakan pemilik sebuah toko di daerah Bekasi. Namun, peran Jamil sejauh ini hanya sebagai fasilitator bagi pemilik kartu ATM palsu untuk bertransaksi di tokonya. Jamil mendapat imbalan 10 persen dari nilai transaksi. Polisi menyita alat electronic data capture atau alat penggesek kartu debit serta uang tunai Rp 11 juta.

Kepolisian juga mencurigai peristiwa pembobolan rekening lewat ATM telah terjadi sejak lama, tetapi baru secara serentak terdeteksi belakangan ini.

Berdasarkan catatan surat pembaca di Kompas, banyak nasabah bank mengirimkan surat pembaca berisi keluhan bahwa saldo di rekening mereka berkurang secara misterius. Namun, tanggapan tertulis kepada Kompas dari pihak bank yang dikeluhkan kerap kali menilai bahwa transaksi tersebut merupakan transaksi sukses. Itu berarti saldo terdebet secara sah karena menggunakan kartu ATM dengan nomor PIN yang benar. (SF)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau