Pembunuhan berantai dan mutilasi

Babeh "Ngaku" Bunuh Empat Anak Lagi, Korban Jadi 14

Kompas.com - 30/01/2010, 12:18 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Baekuni (48) alias Babeh kembali mengaku membunuh empat anak pengamen jalanan. Keempat korban dibunuh di Jakarta. Dengan demikian, jumlah korban yang dibunuh Babeh menjadi 14 anak, sedangkan seorang anak lainnya masih dinyatakan hilang.
 
Jumlah ini, menurut Kepala Satuan Kejahatan dengan Kekerasan Direktorat Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Nico Afinta, masih akan bertambah. "Kalau kita memandang dari hasrat seksual seseorang, berapa lama sih seorang pria normal mampu menahan hasrat seksualnya dalam setahun?" tanya Nico.

Kalau Babeh sementara ini baru mengaku setahun membunuh dua anak demi memenuhi kebutuhan seksualnya, Nico tidak percaya. "Kalau dia mengaku membunuh untuk memenuhi hasrat seksualnya sejak tahun 1995, silakan duga, berapa banyak anak jalanan yang jadi korbannya," tutur Nico.

Ia belum mau mengungkapkan identitas mengenai keempat anak jalanan yang dibunuh Babeh di Jakarta. Sebab, atasannya, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Idham Azis, menurut rencana akan menggelar jumpa pers mengenai hal ini di Polda Metro Jaya, Senin (1/2/2010).

Sepuluh anak yang sudah terungkap menjadi korban kekejian Babe adalah Ardi, Adi, Rio, Arif Abdullah alias Arif "Kecil", Ardiansyah, Teguh, dan Irwan Imran yang dimutilasi, serta Aris, Riki, Yusuf Maulana. Sedangkan Angga, teman Arif "Kecil", masih dinyatakan hilang. Rata-rata usia mereka 10-12 tahun, kecuali Arif yang masih berusia tujuh tahun.

Fitnah Robot Gedhek
Karena kelicikannya, polisi kini mulai khawatir, Babeh pernah mencatut nama Robot Gedhek dalam kasus serupa di Kuningan, Jawa Barat. Oleh karena itu, tim gabungan polisi mulai bekerja keras menyelidiki sejumlah titik di kawasan Kuningan, Jawa Barat. Di salah  satu titik, polisi telah menemukan mayat Teguh, salah seorang korban kekejaman Babeh.

Setelah dipetakan kembali, tak jauh dari tempat itu pula Robot Gedhek memutilasi anak-anak jalanan. "Setelah kami periksa kembali kasusnya, Robot Gedhek tidak pernah memutilasi korban-korbannya. Lagi pula dia kurang waras," kata seorang penyidik.

Ia menduga, Babeh melakukan aksinya dengan memanfaatkan tuduhan terhadap Robot Gedhek. Kalau kami menemukan bukti-bukti baru, bisa jadi kasus Ryan yang sempat membuat tiga waria masuk penjara terulang kembali. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau