MELBOURNE, Kompas.com - Serena Williams sangat terkejut dengan fenomena baru yang muncul di arena Australia Terbuka 2010. Pasalnya, tak ada petenis Rusia yang lolos ke babak semifinal tunggal putri grand slam awal tahun ini.
Bagaimana tidak, di babak empat besar ini justru muncul dua petenis China, Li Na, dan Zheng Jie, yang kemudian terhenti setelah gagal membendung dirinya dan Justine Henin, yang akhirnya dikalahkan 6-4, 3-6, 6-2 dalam partai puncak, Sabtu (30/1/10), di Rod Laver Arena.
"Oh Tuhan, tak ada petenis putri Rusia di semifinal? Apakah ini baru pertama kali terjadi? Tapi, saya tak terkejut dengan dominasi petenis China, mereka memang punya potensi sangat bagus. Dan jangan kaget jika mereka jadi kiblat baru tenis dunia," kata Serena yang memberikan peringatan kepada para petenis putri lainnya.
Ini kali pertama sejak 2004 tak ada petenis Rusia--yang selama ini jadi kiblat petenis tunggal putri dunia--mencapai semifinal Australia Open. Uniknya, ini kali pertama pula ada petenis putri China, bahkan sampai dua petenis, yang 'nyelonong' ke babak empat besar turnamen paling bergengsi di dunia.
Tak masalah langkah keduanya kemudian terhenti di semifinal. Sebab, pencapaian ke babak empat besar itu sudah sebuah langkah fenomenal. Tak heran, keduanya disambut bak pahlawan di "Negeri Tirai Bambu" itu dan diposisikan sebagai "hantu baru" di jagat tenis.
Sebuah koran di China misalnya, memasang headline hanya bertuliskan dua kata dalam aksara China, bertuliskan 'Tennis' dan 'Pride'. Sedang China Sports Daily menulis 'Victory in defeat'. "Panda yang terbangun dari tidur lelapnya," demikian Foxsports.com menuliskan fenomena kebangkitan China di jagat dunia tenis.
Toh, sebenarnya sukses Li Na dan Zheng Jie di Australia Open tak terjadi secara instan. Pelan tapi pasti, dua petenis China itu seolah sudah menyiapkan rencana untuk menaklukkan Eropa, dan Amerika Serikat, yang selama ini menguasai dunia tenis.
Li Na terus menapaki ranking terbaik WTA. Posisi terakhirnya Oktober lalu adalah peringkat 15, dan awal pekan ini dia akan merambat masuk sepuluh besar--sejarah terbaik bagi petenis asal Asia. Demikian juga Zheng, yang seolah menemukan kembali performa puncak di sektor tunggal putri. Tahun lalu ia sempat nongkrong di posisi 15, sebelum melorot ke peringkat 35. Diposisikan sebagai nonunggulan, ia mempermalukan tiga petenis unggulan sebelum takluk oleh Henin.
Jauh sebelumnya, para petenis China ini sudah menebarkan sinyal ancaman yang mengerikan. Adalah Zheng yang melakukannya. Bersama kompatriotnya Yan Zi, mereka sukses memborong gelar juara ganda putri Australia Open, dan Wimbledon pada 2006. Itulah trofi pertama China di jagat tenis dunia.
"Negeri Tirai Bambu" ini memang sedang menggeliat dengan begitu sistematis. Li Na, dan Zheng Zie bukanlah 'anak ajaib', karena mereka adalah produk dari manajemen tenis China yang terus berbenah menuju profesionalisme sesungguhnya.
Gelaran China Open, dan Shanghai Masters yang makin populer, menjadi bukti nyata keseriusan pemerintah China. Tahun lalu, mereka bahkan menggelar liga amatir yang diberi tajuk China Open Rating Tour, untuk melahirkan lebih banyak petenis terbaik. Hasilnya, petenis China lain sudah antre untuk kembali mengguncang dunia.
Tahun lalu misalnya, Zhang Shuai menumbangkan petenis nomor satu dunia kala itu, Dinara Safina, di ronde kedua China Open pada Oktober. Saat itu Zhang ranking 226, dan menjadi petenis unggulan terendah yang bisa menumbang petenis nomor satu.
Jangan heran jika pada tahun bershio Macan ini akan lebih banyak lagi petenis China mengaum, dan menunjukkan taringnya. Tekad itu tergambar lewat sebuah spanduk yang dipasang di sudut kota Beijing, merayakan kebangkitan para petenis putri China.
Spanduk warna merah bertuliskan aksara China itu berbunyi: 'Mei Mei Ni Da Dan De Wang Qian Zou' yang artinya: "Saudara perempuanku, teruslah melangkah dengan gagah berani!". Itulah kalimat yang diambil dari ucapan aktris cantik China, Zhang Yimou di film epik 'Red Sorghum'. Hiaatt! (DEN)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang