Perih yang Tersisa di Situ Gintung

Kompas.com - 31/01/2010, 04:23 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com-- Tragedi jebolnya tanggul Situ Gintung masih menyisakan perih bagi warga sekitar yang menjadi korban. Bina (38) hanya menunduk pilu saat mengingat kejadian Subuh kelabu pada hari jumat ( 27/3/2009 ). Betapa tidak, tragedi ini telah merenggut nyawa ibunya.

Saat itu, sekitar pukul 04.30 dia dibangunkan oleh istrinya, Juniarti (36) karena mendengar suara gemuruh air. Semalaman, istrinya itu tidak bisa tidur karena anaknya, yang saat itu masih berusia 3 bulan terus menangis.

"Waktu itu saya tidak tahu apa mau hidup apa mau mati. Saya sedang tidur di kamar bertiga dengan anak saya. Istri saya bangun pukul 03.00 karena anak saya gelisah. Pukul 04.30 saya dibangunkan istri saya karena dengar suara gaduh," kisahnya, saat ditemui di tempat pengungsian Wisma Kertamukti II, Tangerang, Sabtu (30/1/2010).

Begitu terbangun, Bina bingung dengan suara gemuruh hebat yang didengarnya. Dia mencoba membuka jendela rumah untuk memastikan keadaan sekitar. Namun, tindakannya ini justru membuat air menyerbu masuk ke dalam rumah.

Karena panik, dia mencoba menutup kembali jendela rumahnya. Namun, usahanya itu sia-sia dan air terus merangsek masuk mengisi rumahnya.

Dengan terburu-buru, dia beserta istrinya yang sambil menggendong anaknya mencari tempat yang lebih tinggi untuk berlindung. Siapa nyana, air semakin tinggi dan melampaui tempat mereka berlindung. Bina pun terus mencari akal hingga akhirnya menjebol platfon atap rumah dan berlindung di atas atap.

"Saya jebol plafon. Saat itu suaranya menyeramkan dan itu kami masih belum tahu sebenarnya ada kejadian apa. Saya naik ke atas atap, saya angkat anak saya. Terus istri saya menyusul naik," tuturnya, dengan mata berkaca-kaca.

Setiba di atas atap, Bina tercengang karena ternyata sudah banyak tetangganya yang melakukan hal yang sama. sekuat tenaga, dia dan istrinya berteriak minta tolong.

Beruntung, rumahnya bersebelahan dengan Sekretariat Pencinta Alam Universitas Muhammadiyah Jakarta yang letaknya lebih tinggi dibandingkan rumahnya. Beberapa menit kemudian, sejumlah mahasiswa memberikan pertolongan dengan melemparkan seutas tali ke arah Bina. Sayangnya, tali tersebut mendarat sekitar 1 meter dari tempatnya berlindung.

Dengan merangkak di atas atap, Bina, isteri, serta anaknya merayap untuk menggapai tali tersebut.Upayanya tak berhenti disitu. Dia masih harus menyeberang menyusuri tembok yang lebarnya hanya sekitar lima sentimeter dengan panjang tiga meter untuk mencapai hingga ke gedung sebelahnya.

"Saya menyeberang ke jalanan menggunakan tali. Istri saya menggendong anak jalan di depan. Saya di belakang. Takut kalau tiba-tiba ada apa-apa dengan istri dan anak saya kan bisa saya ikut terjun," ungkapnya. Akhirnya, mereka bertiga bisa selamat.

Namun, malang, karena ternyata ibu Bina tewas dalam tragedi itu. Biasanya, ibunya itu tinggal serumah dengan Bina.

Namun, saat peristiwa pilu itu terjadi, ibunya tengah berada di rumah kakaknya, yang terletak tepat di samping rumah Bina. Ibunya itu terseret air karena terlambat menyelamatkan diri.

"Kakak saya sekeluarga semua selamat. Ibu tidak tertolong. Kakak saya sama istri anak-anaknya naik ke lantai dua, tetapi ibu enggak sempat menyelamatkan diri," kata Bina.

Kini, peristiwa itu juga membuat istri Bina trauma. Setiap langit mendung atau mendengar hujan yang disertai petir, istrinya itu selalu gemetar dan ketakutan.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau