Korban Situ Gintung Mulai Diusir Dari Tempat Pengungsian

Kompas.com - 31/01/2010, 07:42 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com- Belum genap setahun musibah jebolnya tanggul Situ Gintung, namun para korban sudah diminta meninggalkan tempat penampungan sementara di Wisma Kertamukti II. Saat ini, masih ada lima kepala keluarga yang tinggal di penampungan tersebut.

Bina (38), salah satu pengungsi Kertamukti II mengaku telah menerima surat pemberitahuan untuk mengosongkan penampungan tersebut pada 2 Desember 2009 lalu. "Waktu itu ada Satpol PP kesini dua truk. Dia menyerahkan surat itu tanggal 2 Desember, tetapi suratnya tertanggal 26 November. Warga diminta mengosongkan penampungan ini 14 hari setelah tanggal yang tertera di surat itu," kisahnya saat ditemui di penampungan Kertamukti II, Tangerang, Sabtu (30/1/2010).

Keruan saja warga ketakutan dan meninggalkan penampungan. Umumnya, mereka mencari rumah kontrakan baru, hingga saat ini tinggal tersisa lima kepala keluarga.

"Kan kalau berdasarkan peraturan per-Undang-Undangan, yang namanya pengungsi itu dia terpaksa atau meninggalkan tempat tingggalnya dan ditampung di pengungsian dalam waktu yang tidak ditentukan. Kaitannya dengan bencana, harus ada program rehabilitasi dan rekonstruksi dulu baru diusir," papar ayah dua anak ini, kesal.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau