China Akan Menilai Kembali Mata Uang Yuan

Kompas.com - 31/01/2010, 13:28 WIB

DAVOS, KOMPAS.com - China akan mencoba menilai kembali mata uangnya ketika para mitra global mulai menarik bebagai paket stimulus mereka, demikian dikatakan pimpinan Bank Sentral China, Sabtu (30/1/2010).

Namun, Deputi Gubernur Bank Sentral China, Zhu Min, mengatakan penilaian kembali itu tidak akan memperbaiki ketidakseimbangan perdagangan dunia.

Di depan Forum Ekonomi Dunia di Davos, dia mengatakan China sedang berusaha meningkatkan konsumsi domestik, tapi mengingatkan perlu waktu untuk meminta China memperbesar pengeluaran.

Zhu mengatakan, Beijing telah mempertahankan nilai tukar yuan yang stabil melewati krisis keuangan dan ekonomi melalui paket stimulus sendiri. "Langkah itu baik untuk China dan juga dunia," katanya menegaskan.

Dia juga mengindikasikan, penilaian kembali akan dilakukan. Beijing memiliki komitmen terhadap kesepakatan pertemuan G-20 di Pittsburg, yang menyatakan berbagai negara akan mengkordinasikan strategi jalan keluar dari paket stimulus besar yang diadopsi untuk memerangi pelambatan dunia.

"Jika dunia (mitra) siap untuk menjalankan strategi jalan keluar itu, China siap ... termasuk mengenai berbagai isu - mengenai likuiditas, pertukaran permasalahan," katanya kepada forum.

China berada di bawah tekanan saat menjaga yuan tetap lemah terhadap dolar. Para kritikus mengatakan kebijakan China ini membuat ekspor produk China lebih murah dan memicu surplus perdagangan yang besar dengan Barat. Surplus perdagangan China mencapai 196,1 miliar dolar AS pada 2009.

Zhu mengatakan, yuan yang lebih kuat tak akan menyelesaikan ketidakseimbangan perdagangan. "Nilai tukar merupakan masalah dalam isu penyeimbangan kembali. Nilai tukar tidak akan mampu mengubah semuanya," katanya.

Beijing mengakui perlunya berhenti tergantung pada ekspor. "Krisis telah mengajarkan kepada kita bahwa model ekspor murni tidak berkelanjutan dan kami sedang mengusahakannya. Keadaan sudah membaik, tetapi tetap butuh waktu," katanya.

"Aku masih orang yang ketinggalan jaman. Jika kaca masih baik, saya tidak akan membuangnya untuk membeli kristal, bahkan jika pendapatan saya meningkat. Saya masih akan menggunakan itu," katanya.

Pimpinan IMF, Dominique Strauss-Kahn, juga memberi catatan, sangat sulit untuk mengeser model pertumbuhan ini dari dihela ekspor menjadi dihela permintaan domestik.

"Dengan konsumen AS membeli lebih sedikit di tengah krisis dan pengeluaran China melalui stimulus dan usaha agar China membeli lebih banyak, masalah ketidakseimbangan perdagangan menjadi tampak sedikit lebih baik dari sebelum krisis," kata Strauss-Kahn.

Namun dia mengingatkan, konsumen China jauh dari mampu untuk mengimbangi menurunnya konsumsi di AS. Dalam sesi terpisah, pimpinan eksekutif kelompok bank Standard Chartered, Peter Sands, mengatakan tidak ada perbaikan yang cepat mengenai pilihan terhadap mata uang China.

"Saya kira ada banyak hal sederhana yang dikatakan mengenai mata uang renminbi. Beberapa tampaknya percaya bahwa jika direvaluasi, semua ketidakseimbangan makroekonomi akan hilang seketika. Itu salah. Itu terlalu sederhana," katanya.

Dia menunjukkan bahwa nilai ekonomi Asia telah meningkat dan nilai ini akan tercermin dari nilai mata uang Asia terhadap mata uang barat.

"Saya percaya bahwa sering berjalannya waktu, renminbi dan mata uang Asia lainnya akan lebih dihargai dan dikelola lebih tertib menjadi hal penting untuk mendamaikan beberapa ketidakseimbangan makro-ekonomi di dunia," tambahnya.

Presiden Perancis, Nicolas Sarkozy, dan miliarder sektor keuangan, George Soros, selama pertemuan Davos meminta dengan sangat agar China mengizinkan nilai mata uangnya menguat.

Dalam pidato utama pada hari pertama forum, Sarkozy secara terselubung menyerangan China, dengan mengatakan ketidakseimbangan perdagangan telah merugikan pemulihan ekonomi dunia.

"Ketidakstabilan nilai tukar dan penilaian terhadap mata uang tertentu yang lebih rendah bertentangan dengan persaingan perdagangan yang adil dan jujur," kata Sarkozy.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau