YOGYAKARTA, KOMPAS -
”Jika budaya membaca tidak dikuasai, kita akan kedodoran dalam menguasai ilmu pengetahuan,” kata Pemimpin Redaksi Harian Kompas Rikard Bagun pada pembukaan Pameran Buku dan Multimedia Kompas Gramedia Fair (KGF) di Jogja Expo Center, Yogyakarta, Sabtu (30/1).
KGF yang berlangsung 30 Januari-3 Februari itu diikuti lebih dari 35 stan pameran, antara lain dari penerbit Gramedia Pustaka Utama, Elex Media Komputindo, Toko Buku Gramedia (Gramedia Asri Media), PT Gramedia Printing Group, Jakarta Post, Kelompok Media Olahraga, dan Universitas Multimedia Nusantara. Selain pameran, ada talkshow, workshop, seminar, dan lomba menyanyi tingkat TK-SD.
Menurut Rikard, mendorong budaya membaca perlu ada sebuah gerakan. Namun, hal itu sulit diwujudkan jika hanya dilakukan sendirian.
Mewujudkan gerakan membaca, bagi Kompas Gramedia merupakan bagian upaya menjalankan amanat konstitusi, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. ”Kompas Gramedia ingin menjadi instrumen untuk mendorong budaya membaca. Dalam perjalanannya, pergulatan di lapangan, ternyata apa yang kami lakukan efeknya sangat terbatas. Karena itu, melalui pameran seperti Kompas Gramedia Fair, kami melakukan interaksi dan mobilisasi dengan semua pemangku kepentingan,” kata Rikard.
Yogyakarta dipilih sebagai salah satu simpul gerakan karena Yogyakarta memiliki banyak asosiasi, pusat ilmu pengetahuan, kota pelajar, kota peradaban, kota pluralisme, dan salah satu kota peduli lingkungan.
Wali Kota Yogyakarta Herry Zudianto memberikan apresiasi dan dukungan terhadap KGF Menurut Herry, Kompas Gramedia memiliki misi membangun pengetahuan untuk bangsa Indonesia. Untuk mewujudkan Indonesia yang maju, sejahtera, berdaulat, dan bermartabat, bisa dilakukan dengan memperluas cakrawala keilmuan, teknologi, serta tidak kalah penting kemanusiaan dan pluralisme.