Belajar Sains Jadi Mengasyikkan

Kompas.com - 01/02/2010, 07:53 WIB

 

Ester Lince Napitupulu

KOMPAS.com — Bagi sebagian anak, belajar sains tidak lagi menakutkan. Justru sains menjadi sesuatu yang menarik dan menyenangkan. Ini tidak terlepas dari langkah Sanny Djohan. Dia menerbitkan majalah sains untuk anak-anak Kuark yang terbit setiap bulan serta menyelenggarakan Olimpiade Sains Kuark secara periodik.

Gagasan menerbitkan majalah sains bermula dari keprihatinan Sanny. Dia melihat, sains bagi sebagian anak kurang menarik, membuat pusing, dan sangat menakutkan. Guru-guru di sekolah juga mengajar sains secara textbook, tidak kreatif. Akibatnya, pendidikan sains tidak berkembang.

Padahal, negara ini butuh banyak ilmuwan untuk bisa memanfaatkan kekayaan alam sebagai sumber ilmu dan penghidupan bagi kemajuan bangsa pada masa depan.

Berangkat dari keprihatinan ini, Sanny Djohan (49), yang puas mengenyam pendidikan di Singapura dan Amerika Serikat, akhirnya memilih untuk menghadirkan majalah sains bagi anak-anak yang disajikan secara populer, menarik dan interaktif dalam bentuk komik. Majalah ini yang diberinya nama Kuark terbit pertama kali pada 2003.

Majalah sains bulanan ini terbagi tiga level, yakni untuk kelas I-II, kelas III-IV, dan kelas V-VI. Dalam majalah sains itu tersedia banyak percobaan sains yang dikemas dalam permainan sehingga anak-anak usia SD tanpa sadar akan paham konsep-konsep sains.

Selain itu, Sanny juga secara periodik menggelar Olimpiade Sains Kuark (OSK) yang memasuki tahun ketiga pada 2010 ini.

Mengapa memilih membenahi pendidikan sains di tingkat SD?

Pilihan untuk menghadirkan sains yang menyenangkan di tingkat SD itu lahir dari pertemuan dengan Pak Yohanes Surya, fisikawan Indonesia yang konsisten menyiapkan anak-anak Indonesia agar andal di bidang sains serta bisa berkompetisi di olimpiade sains internasional. Pembenahan pembelajaran sains di tingkat SD tidak sekadar untuk menciptakan ilmuwan atau profesor sains yang andal pada masa depan. Lewat sains, generasi masa depan bangsa pun bisa terbiasa dengan kreativitas, berpikir, memecahkan masalah, serta melahirkan gagasan-gagasan baru untuk membawa bangsa ini pada kemajuan.

Apa yang ingin dicapai dari penyelenggaraan OSK yang akan memasuki penyelenggaraan ketiga itu?

Ekspektasi saya tinggi sekali, ingin supaya banyak anak yang merasakan manfaat kehadiran Kuark. Sekarang yang ikut sudah mewakili seluruh Indonesia. Mereka bisa terbantu saat belajar sains. Ini hanya satu alat yang juga bisa dipakai guru untuk menambah referensi mengembangkan pembelajaran sains yang menyenangkan. Penyelenggaraan OSK juga maunya bisa menjangkau sebanyak mungkin anak SD. Sekarang memang masih kecil, tahun ini targetnya 100.000 anak, masih kecil dibanding 25 juta siswa SD sekarang ini.

Lewat OSK, siapa pun bisa ikut. Tidak hanya untuk anak yang pintar. OSK ini maunya jadi fasilitas buat anak-anak untuk bisa mengasah dan menguji diri dalam kemampuan sains.

Hasil apa yang bisa diperoleh setelah beberapa kali menyelenggarakan OSK?

Anak yang berprestasi ternyata bukan hanya di perkotaan. Di pedalaman Papua ternyata banyak anak-anak yang sangat cepat menguasai sains setelah dilatih. Itu yang sangat menggembirakan. Persoalannya, apakah mereka diberikan kesempatan atau tidak?

Apa yang Anda lihat dalam pembelajaran sains di sekolah?

Sains masih diajarkan sebagai hafalan, sesuai buku paket, dan butuh alat peraga. Guru juga belum mengajarkan sains kepada anak dengan menarik dan lebih integratif.

Ketika guru juga terbatas kemampuannya dalam mengajar sains, apa yang dilakukan Kuark?

Kami juga melakukan pelatihan guru sejak pelaksanaan OSK pertama. Guru butuh pelatihan yang baik. Para guru umumnya butuh kemampuan dasar, misalnya bagaimana bisa berkreativitas, dan sains itu ada di lingkungan sekitar kita. Jadi, untuk pembelajaran sains yang baik bukan butuh alat peraga Rp 2 juta atau pakai teropong. 

Bagaimana Anda melihat pendidikan yang berlangsung di sekolah saat ini?

Anak-anak tidak ditantang untuk berpikir. Mereka datang ke sekolah untuk belajar dan menerima. Misalnya, jika satu tambah satu sama dengan dua. Kenapa bisa dua? Enggak tahu. Mereka tidak dibiasakan untuk berpikir dengan bebas. Akibatnya, anak-anak yang di universitas juga enggak tahu apa yang mau dikerjakan. Pendidikan kita juga enggak membuat anak-anak punya fighting spirit dalam segala hal, juga bagaimana bisa bekerja dengan efisien, cepat, dan tepat. Kalau kita teruskan pendidikan dengan cara seperti itu, sayang negara kaya ini, masyarakatnya tidak akan kaya. Kita tetap akan miskin karena orang-orang kita tidak mampu menampilkan kerja yang baik.

Apa Anda merasa mendapat dukungan dari pemerintah?

Saya belum menemukan partner di dalam di pemerintahan yang mengerti bagaimana sebenarnya pendidikan mesti dibenahi. Kami selalu dilihat dengan pikiran ”bisnis” sebagai orang swasta. Melihat yang kami lakukan ini uang, bisnis. Sangat beda dengan sudut pandang kami ketika ingin terlibat dalam pembenahan pendidikan sains. Padahal, kami ingin bisa bersama-sama. Tangan kami tidak cukup untuk melakukan semua hal. Kadang-kadang saya merasa capek dan ingin berhenti. Tetapi, melihat siswa dan guru di daerah yang bersemangat, tim Kuark berusaha melakukan yang terbaik.

Apa harapan Anda untuk pendidikan sains?

Kami baru bisa membantu di SD. Saya berharap ada pihak lain yang bisa memupuk mereka selanjutnya. Saya yakin di Indonesia banyak anak-anak pintar dan berpotensi. Jangan sampai potensi itu dilihat dan dimanfaatkan orang di luar negeri, justru kita sendiri tidak mampu melihatnya. Kita harus memanfaatkan potensi anak-anak ini untuk perkembangan anak sendiri serta kemajuan bangsa pada masa mendatang.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau