Bidik 800 juta dollar as

Hary Jual Saham Indovision

Kompas.com - 01/02/2010, 11:03 WIB

 JAKARTA, KOMPAS.com - Setelah mengumumkan rencananya merambah ke sektor energi dan pertambangan, PT Bhakti Investama Tbk (BHIT) kembali membuat gebrakan. Perusahaan investasi ini berencana menjual maksimal 40 persen saham anak usahanya, PT MNC Sky Vision. Hajatan ini berpotensi menghasilkan dana 800 juta dollar AS.

"Peminatnya sangat banyak," kata Direktur Utama BHIT Hary Tanoesoedibjo, kepada KONTAN, kemarin. Kebanyakan peminatnya adalah perusahaan-perusahaan asing.

Akhir pekan lalu, harian Financial Times melaporkan, ada empat investor asing yang bersiap mencaplok saham MNC Sky Vision. Antara lain, Carlyle Group, Providence Equity Partners, Quadrangle Capital Partners, dan General Atlantic.

Sayang, Hary menolak mengungkapkan para peminat saham perusahaan stasiun televisi berlangganan Indovision tersebut. Yang jelas, BHIT adalah salah satu pemegang saham langsung yang ingin menjual saham MNC Sky Vision. "Saham yang akan dijual adalah kombinasi saham baru dan saham lama dengan total antara 20 persen hingga 40 persen," katanya.

Induk usaha Grup Bhakti ini telah menunjuk dua penasehat keuangan, yaitu Standard Chartered dan JP Morgan untuk membantu merealisasikan aksi korporasi itu. Hary memperkirakan, penjualan maksimal 40 persen saham Indovision itu bisa menghasilkan dana lebih dari 800 juta dollar AS.

Kontribusi 20,3 persen ke BMTR

Angka yang disebut Hary itu sangat besar jika kita melihat nilai aset MNC Sky Vision. Per akhir September 2009, MNC Sky Vision memiliki total aset Rp 2,17 triliun. Kontribusi pendapatan BMTR dari media berbasis pelanggan ini mencapai Rp 754,08 miliar atau 20,3 persen dari total pendapatan BMTR per kuartal ketiga 2009 yang mencapai Rp 3,71 triliun.

Namun, di akhir Desember 2009 Indovision memiliki 608.000 pelanggan televisi berbayar atau sekitar 70 persen dari pangsa pasar televisi berbayar di Indonesia. "Tahun ini, kami menargetkan hingga satu juta pelanggan," kata Sekretaris Perusahaan MNC Sky Vision, Arya Mahendra. Saat ini, sekitar 50 persen pelanggan Indovision berada di kawasan Jabodetabek.

Meski akan melepas kepemilikan langsungnya di MNC Sky Vision, tampaknya, BHIT tidak berniat menjual saham yang dimilikinya secara tidak langsung. Sekedar informasi, BHIT masih memiliki 51 persen saham MNC Sky Vision secara tidak langsung melalui PT Global Mediacom Tbk (BMTR). "Mediacom tidak melakukan penjualan saham," tegas Harry.

Sebelumnya, BMTR malah pernah mengutarakan keinginannya membeli saham Indovision dari tangan BHIT jika harganya cocok. Tujuannya meningkatkan kepemilikan sahamnya hingga 81 persen. Namun, kini, Hary yang juga petinggi BMTR, enggan mengomentari rencananya lama itu.

Kepala Riset Paramitra Alfa Sekuritas Pardomuan Sihombing mengatakan, minat investor asing terhadap penjualan saham Indovision ini menunjukkan bahwa investor melihat potensi dan prospek perusahaan itu cukup bagus. "Karena pembelinya adalah perusahaan investasi, saya rasa pengaruhnya akan lebih ke pendanaan yang lebih mudah mencarinya," katanya.

Dengan ketersediaan dana tersebut, ekspansi Indovision di tahun ini akan lebih bagus. (Wahyu Tri Rahmawati, Avanty Nurdiana/Kontan)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau