MALANG, KOMPAS.com - Ratusan jenis perhiasan mutiara Lombok dipamerkan di Hotel Tugu Malang, -15 Februari 2010 di Restoran Shanghai Noon Hotel Tugu. Pameran bertajuk Pearls, The Mystique of Oc ean jewels for Ladies and Girls ini digelar dalam peringatan Hari Valentine dan Imlek pada pertengahan Februari mendatang.
Dalam kesempatan itu dipamerkan lebih dari 200-an koleksi mutiara Lombok kualitas super koleksi dari Hotel Tugu Lombok ataupun sejumlah koleksi perajin seperti Lyn Swaiko dan Daphe Zepas.
Mutiara yang dipamerkan mulai dari koleksi fashion hingga etnik (kerang). Dari bentuk round pearl (mutiara bundar), tears pearl (mutiara berbentuk tetesan air mata), atau baroque pearls (bentik tidak simetris).
Jika dilihat dari warna, perhiasan yang dipamerkan mulai dari grey pearl yang melambangkan cinta kasih serta gold pearl yang melambangkan kesuksesan.
Bentuk perhiasan mulai dari bros, anting, cincin, kalung, gelang, dan sebagainya. Harga yang ditawarkan untuk setiap perhiasannya mulai dari terendah Rp 900.000 hingga termahal hingga Rp 60 juta.
Perhiasan-perhiasan ini biasanya diberikan sebagai gift bukan saja untuk pasangan namun juga untuk orang tua, anak, dan sebagainya, ujar Ika Dewi, penanggung jawab pameran tersebut, Senin di Malang.
Selera Tinggi
Dalam hal perhiasan, cita rasa warga Malang dalam hal seni dinilai cukup tinggi. Mereka bahkan sanggup membelanjakan uang hingga jutaan rupiah demi sebentuk perhiasan.
Hal itu terbukti dalam beberapa kali pameran perhiasan yang digelar oleh Hotel Tugu Malang, ada sejumlah masyarakat prime atau very very important person (VVIP) dengan cepat membelanjakan uang mereka pada produk yang diinginkan.
Sifat konsumen prime ini menurut Crescentia biasanya fashionabl e (mengikuti tren mode), loyal atau setia, royal, dan memiliki selera tinggi.
"Cita rasa warga Malang terhadap seni khususnya perhiasan cukup tinggi, tidak kalah dengan Surabaya. Jadi misalnya mereka sudah suka dan merasa sesuai dengan dirinya, mereka akan membelinya dengan tidak melihat harga. Yang penting mereka suka koleksi itu, maka mereka pun membelinya," ujar Executive Asistant Manager Hotel Tugu Malang, Crescentia Harividyanti, Senin (1/2/2010) di Malang.
Mereka adalah remaja putri, ibu-ibu pejabat, istri pengusaha, pengusaha yang hendak memberikannya pada staf, atau suami yang akan memberikan kado untuk istri. Konsumen perhiasan mewah ini menurut Crescentia bisa jadi orang asli Malang, keturunan, atau murni orang luar negeri yang menginap di Hotel Tugu.
"Meski Malang kota kedua di Jatim, namun dalam hal selera tidak seperti itu. Bahkan bisa jadi ke depan selera warga Malang jauh melebihi Surabaya," ujar Crescentia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang