Bandara Internasional Ngurah Rai Bali Diperluas dengan Konsep Eco-Airport

Kompas.com - 01/02/2010, 20:11 WIB

BALI, KOMPAS.com - Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali akan diperluas, agar mampu melayani penumpang sampai 20 juta per tahun atau lebih dari dua kali lipat dari kapasitas saat ini.

General Manager PT Angkasa Pura I, Heru Legowo dalam percakapan khusus dengan Kompas.com akhir pekan lalu mengungkapkan, saat ini kapasitas terminal domestik Bandara Internasional Ngurah Rai 1,5 juta penumpang per tahun, namun pada praktiknya terminal domestik sudah melayani 4 juta penumpang per tahun. "Sejak bom Bali II, jumlah penumpang yang datang ke Bali melalui terminal domestik meningkat pesat," kata Heru.

Luas terminal domestik pun yang saat ini 16.000 meter persegi, sudah tidak layak lagi. "Nanti akan dibongkar dan diperluas menjadi 120.000 meter persegi. Terminal domestik ini akan menjadi terminal internasional, dan terminal internasional sekarang akan menjadi terminal domestik," ungkap Heru Legowo.
 
Biaya yang dibutuhkan untuk merenovasi Bandara Internasional Ngurah Rai Bali mencapai Rp 1,7 triliun. "Pemerintah meminta PT Angka Pura sendiri yang membiayai renovasi bandara ini. Kami masih menunggu persetujuan soal biaya ini dari Menteri Negara BUMN dan soal perizinan dari Menteri Perhubungan," jelasnya. Perluasan bandara akan membuat perumahan PT Angkasa Pura I di sekitar bandara harus dibongkar.

Pemerintah Provinsi Bali mengharuskan bentuk terminal baru nanti mencerminkan nuansa Bali. "Awalnya ini menjadi perdebatan panjang karena kami ingin fungsional saja, dan nuansa Bali ada dalam gedung. Namun karena ada permintaan pemerintah Bali, kami mencoba memadukan ini," ungkap Heru.

Heru berharap perluasan Bandara Internasional Ngurah Rai Bali akan meningkatkan kapasitas penumpang menjadi 20 juta per tahun. Saat ini baru 9 juta penumpang per tahun.

Menurut Heru, pemerintah Bali harus ikut memikirkan bagaimana pengaturan lalu lintas di luar bandara  agar lebih lancar. "Kami berharap akses ke Nusa Dua dan Kuta lebih lancar. Sebab saat ini saja jalan keluar bandara padat di Patung Dewa Ruci. Pemerintah Bali harus membuat akses jalan di luar bandara ini lebih lancar," tandasnya.

Eco-airport
Heru Legowo menambahkan, Bandara Internasional Ngurah Rai yang baru nanti akan menerapkan eco-design sehingga ini menjadi eco-airport. Di Indonesia, ada enam bandara yang menjadi proyek percontohan eco-airport. Selain Ngurah Rai Bali, juga Bandara Internasional Soekarno-Hatta Jakarta, Bandara  Juanda Surabaya, Batam, Palembang, dan Tarakan.

Salah satu yang harus diterapkan adalah keran di bandara setiap menit berhenti sendiri, tak usah diputar. Lalu penggunaan lampu dari atas (sky-light) menembus lantai dan dinding kaca dan menembus ke ruang lainnya. "Kalau di Bali, bike to work masih memungkinkan, tapi di kota lain mungkin bisa keringetan," ujar Heru yang suka menulis di blog.

Selain itu, Heru menambahkan, sudah menerapkan peperless. "Kalau dulu, informasi tentang gaji dicetak. Bayangkan jumlah karyawan ada 1.000, kalau di-print bisa seharian. Kami buat website dan karyawan bisa cek di website dengan memasukkan nomor PIN. Ini sangat meneghemat kertas, tinta, dan menghemat energi," jelasnya.

Selain itu, eco-airport juga ditunjukkan dengan penanaman pohon pelindung di sekitar bandara dan pembayaran secara online. Heru juga membagi tugas kepada para staf dan karyawannya melalui surat elektronik. Ini semua upaya membuat bandara ini menuju eco-airport.

 
 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau