Beginilah Cara Toyota Mengatasi "Recall"

Kompas.com - 02/02/2010, 10:39 WIB

KOMPAS.com — Berita Toyota melakukan recall di Amerika Serikat menghebohkan dunia otomotif. Pasalnya, jumlah kendaraan yang harus menerima recall mencapai jutaan unit. Menurut Toyota, jumlahnya mencapai 2,3 juta unit.

Namun, dengan tindakan Toyota menunda beberapa produk barunya, efek berita tersebut bak balon yang terus ditiup. Terakhir, menurut CNN yang dikutip oleh banyak kantor berita dan media internasional, recall global Toyota bisa mencapai 5,3 juta unit. Kamis lalu diberitakan bahwa di China, Toyota juga menarik 75.500 SUV. Problemnya, pedal gas tidak bisa kembali ke posisi semula (stasioner).

Pedal gas "nyangkut"
Pedal gas atau akselerator tak banyak dilirik pemilik mobil karena harus membungkuk untuk melihatnya. Padahal, inilah bagian kendaraan yang paling sering disentuh selama mobil meluncur. Pedal gaslah yang menentukan mobil meluncur dengan cepat atau lambat.

Pada mobil masa kini, pedal gas tidak lagi menggunakan penghubung berupa kabel besar ke “throttle body” atau katup gas di mesin. Dengan sistem drive by wire (DBW), pedal dilengkapi kabel listrik biasa yang dihubungkan ke komputer mesin. Selanjutnya komputerlah yang mengatur atau mengontrol “throttle body” yang digerakkan melalui stepper motor.

Untuk memberi “rasa” kepada pengemudi saat menekan pedal gas plus agar gas bisa bergerak lebih rata ketika dibebaskan, maka mekanisme penggerak diberi penahan atau gesekan, mirip dengan kerja rem. Karena itu pula, ada yang menyebut bagian ini dengan istilah "sepatu gesek".

Nah, pada mobil yang ditarik Toyota, komponen penggesek atau yang menahan pedal gas justru dianggap sebagai sumber masalah. Pada bagian atau kondisi tersebut, penahan dan mekanisme pedal terlalu rapat. Akibatnya, pedal gas tidak bisa kembali ke posisi semula.

Kalau sudah begini, pengemudi harus menggunakan rem yang juga mengakibatkan rem cepat aus dan tentu saja makin membahayakan.

Dalam kampanye recall ini, Toyota juga memberi tahu tindakan darurat bila pedal gas menyangkut. Mereka menyarankan untuk menggunakan rem, tetapi tidak boleh dikocok. Pasalnya, vakum yang membantu kerja sedang tidak bekerja.

Berbagai faktor
Kesimpulan Toyota terhadap pedal menyangkut juga belum bisa dipastikan. Dugaan sementara, itu terjadi karena materi penahan, keausan, dan kondisi lingkungan. Hal ini bisa dimaklumi karena masalah terjadi setelah mobil digunakan beberapa lama dan tidak dalam kondisi masih baru.

Tindakan yang dilakukan Toyota saat ini adalah, setiap kendaraan yang ditarik, mekanisme pedal gasnya diganti. Pada pedal gas baru ditambahkan penguat dengan menggunakan potongan baja yang diselipkan antara mekanisme pedal gas dan penahan. Dengan cara ini, insinyur Toyota mengatakan bahwa gesekan dari penahan bisa dikurangi. Pedal gas pun bisa kembali ke posisi awalnya dengan lancar.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau