"Facebookers" Bisa Tandingi Negara dan Media

Kompas.com - 02/02/2010, 17:45 WIB

SURABAYA, KOMPAS.com — Staf Ahli Menkominfo Bidang Media Massa Dr Drs Henri Subiakto, SH, MA berpendapat bahwa facebookers (pengguna situs jejaring sosial Facebook) mampu mengimbangi negara dan pemilik media.

"Karena itu, jangan takut media massa akan dikendalikan negara atau pemilik media karena facebookers mampu mendorong publik menjadi kuat," kata anggota Dewan Pengawas (Dewas) Perum LKBN ANTARA itu di Surabaya, Selasa (2/2/2010).

Ia mengemukakan hal itu dalam ujian terbuka doktor di Pascasarjana Universitas Airlangga (Unair) Surabaya dengan promotor Prof Ramlan Surbakti, PhD (mantan anggota KPU) dan akhirnya dinyatakan lulus dengan predikat "Sangat Memuaskan".

Ujian terbuka itu dihadiri sejumlah kolega, di antaranya Prof Sasa Djuarsa Sendjaja, PhD (Ketua KPI/UI), Freddy Tulung (Kepala Badan Informasi Publik Kemkominfo), Dr Ishadi SK, MSc (Presdir Trans TV), Asro Kamal Rokan (Dewas Perum LKBN Antara), dan Dr Ahmad Mukhlis Yusuf (Dirut Perum LKBN Antara).

Menurut doktor ke-1.172 di Unair yang pernah menjadi agen dan loper koran itu, konsentrasi kepemilikan media massa itu tidak perlu dikhawatirkan karena facebookers akan menjadi penyeimbang opini yang tidak obyektif.

"Apalagi, konsentrasi media itu sendiri merupakan keniscayaan sejarah, sebab teknologi informasi yang berkembang mendorong konvergensi media, sehingga televisi, radio, dan koran menjadi tidak jelas," paparnya.

Selain itu, kata pria kelahiran Yogyakarta pada tanggal 29 Maret 1963 itu, pemilik media massa tidak perlu dikhawatirkan akan mengendalikan opini yang berkembang karena kontrol pemodal terhadap media massa itu tidak ada yang sempurna.

"Pak Harto adalah buktinya, bahkan detik-detik menjelang reformasi tahun 1998 justru menunjukkan sejumlah stasiun televisi milik anak-anak Pak Harto bersaing menayangkan aksi unjuk rasa di mana-mana," tuturnya.

Bahkan, kata alumnus S-1 Ilmu Komunikasi UGM dan Hukum UII Yogyakarta yang menjadi dosen komunikasi di Unair Surabaya sejak tahun 1988 itu, rating (tingkat besar-kecilnya khalayak yang menikmati program) merupakan kontrol yang sebenarnya karena rating itulah yang justru mengendalikan pemilik media massa.

Jawaban itu membuat alumni Magister (S-2) Ilmu Komunikasi di UI itu dicecar dengan pertanyaan tentang rating oleh tiga guru besar, yakni Prof Ramlan Surbakti (promotor), Prof Dedy N Hidayat (kopromotor), dan Prof Sasa Djuarsa Sendjaja.

Ketiga guru besar ilmu sosial itu mempertanyakan peran rating dalam mewakili kepentingan khalayak dan kemungkinan rating justru merupakan rekayasa pebisnis untuk memengaruhi opini masyarakat.

"Pemilik modal itu hanya mampu mengendalikan aset media massa dan tidak akan mampu mengontrol isi (konten), tapi pemerintah juga perlu memperkuat lembaga pelayanan publik (LPP) seperti TVRI dan RRI untuk mengimbau opini yang merugikan publik," ujarnya.

Tentang konten dalam kaitannya dengan rating itu juga disoroti Prof Dedy. "Saya kira, rating itu rekayasa industri untuk membentuk keinginan masyarakat, misalnya, sinetron yang merupakan selera ciptaan industri media massa," katanya.

Menanggapi hal itu, Henri Subiakto yang pernah menjadi Direktur Media Watch (Lembaga Konsumen Media) dan Ombudsman Jawa Pos Grup itu menegaskan bahwa rating dan selera publik itu ibarat perdebatan tentang ayam dan telur.

"Mana dulu, ayam atau telur, saya kira hal itu saling berhubungan, berkaitan, dan membutuhkan. Begitulah, apakah rating atau selera publik yang harus dipilih, saya kira keduanya saling mendukung," katanya menegaskan.

Dalam disertasi bertajuk "Kontestasi Wacana Tentang Sistem Penyiaran yang Demokratis Pasca-Orde Baru: Analisis Konstruksi Sosial Relasi Negara, Industri, Penyiaran, dan Civil Society" itu, Henri menyinggung adanya kooptasi industri terhadap pemerintah dalam pembuatan regulasi.

"Ada kooptasi industri terhadap negara, karena saya menyaksikan sendiri regulasi tentang penyiaran yang diintervensi industri. Kalau hal itu dibiarkan maka regulasi kita akan rusak," papar penerima sejumlah program beasiswa dari Amerika, Australia, dan Korea Selatan itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau