Omzet Waralaba Indonesia Rp 85 Triliun

Kompas.com - 03/02/2010, 14:54 WIB

SOLO, KOMPAS.com — Omzet usaha waralaba di Indonesia saat ini mencapai sekitar Rp 85 triliun per tahun. Uang usaha hasil ini sebagian besar lari ke luar negeri karena pemilik modal kebanyakan adalah orang asing.
     
"Orang asing dalam usaha ini memang hanya menguasai lima persen. Namun dengan modal yang besar, omzet yang dikuasai juga besar, yaitu mencapai 60 persen lebih," kata Ketua Dewan Pengarah Waralaba dan Lisensi Kadin Amir Karamoy seusai penandatanganan kerja sama antara PT Sritex dan PT Toni Jack’s dalam usaha rumah makan di kantor pabrik tekstil PT Sritex Sukoharjo, Rabu (3/2/2010).
     
Untuk itu, ia mengatakan bahwa Kementerian Perdagangan harus secepatnya membuat aturan-aturan ini agar usaha sistem waralaba tidak dimonopoli oleh segelintir orang. "Ya kami telah mengusulkan pembuatan peraturan ini kepada Kementerian Perdagangan, tetapi sampai sekarang juga belum ada hasilnya," akunya.
     
Menurut dia, untuk mencegah monopoli dalam usaha ini, setiap pengusaha asing yang akan menanamkan modalnya sebaiknya harus bekerja sama dengan pengusaha dalam negeri.
     
"Saya berkeyakinan kalau pemerintah tidak cepat-cepat mengeluarkan aturan tersebut, maka usaha seperti ini dalam waktu dekat akan dikuasai pemodal asing, dan sekarang saja dampaknya sudah dirasakan," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau