Pabrik Pupuk, Maju Salah Mundur Salah

Kompas.com - 03/02/2010, 19:08 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Industri pupuk di Indonesia saat ini tengah menghadapi situasi yang hampir sama dengan idiom, maju salah mundur pun salah. Di satu sisi, pasokan gas yang sangat terbatas membuat industri ini seperti tanpa masa depan, akibatnya di sisi lain, tidak ada perbankan yang berani menanamkan modal di industri pupuk karena masalah pasokan bahan bakunya itu.

 

Ketua Kelompok Kerja Pupuk Nasional sekaligus Deputi Bidang Koordinator Perdagangan dan Industri, Menko Perekonomian, Edy Putra Irawadi mengungkapkan hal tersebut di Jakarta, Rabu (3/2/2010).

Menurut Edy, perusahaan pupuk milik pemerintah sekalipun tidak tidak mungkin mendapatkan kredit dari bank jika tidak ada jaminan pasokan gas. Sebab, gas merupakan bahan baku utama, yang berkontribusi 90 persen dari seluruh total produksi pupuk kimia.

Atas dasar itu, pemerintah dalam Program 100 Hari mengagendakan revitalisasi pabrik pupuk. Caranya dengan membangun pabrik baru dengan nama Pupuk Kaltim (PKT)-5 yang menggantikan pabrik PKT -1 yang tadinya membutuhkan pasokan gas sebanyak 123 juta standar kaki kubik per hari (mmscfd). Namun, BP Migas (Badan Pengatur Hulu Migas) hanya bisa menjamin 80 mmscfd. "Atas dasar itu, kapasitas PKT-5 dirampingkan," ujarnya.

Total investasi untuk membangun PKT-5 adalah 800 juta dollar AS atau sekitar Rp 8 triliun. Kebutuhan modal itu akan ditutup dari modal Pupuk Kaltim sendiri sebanyak 30 persen, dan 70 persen sisanya dari pembiayaan perbankan.

"Dengan cara ini akan terjadi penghematan sekitar 70 juta dollar AS per tahun. Kalau harga per mmbtu (juta kaki kubik standar unit panas Inggris) 75 juta dollar AS per tahun . Jika diasumsikan harga gas rata-rata sebesar 6,7 dollar AS per ton, maka akan ada penghematan sekitar 11 mmscfd. Sebab, pabrik tua PKT-1 ini mengkonsumsi gas 91 mmscfd, sedangkan teknologi pabrik baru di PKT-5 hanya 80 mmscfd," cetus Edy. 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau