JAKARTA, KOMPAS.com - Maraknya serbuan produk China akibat diberlakukannya perjanjian perdagangan bebas ASEAN-China (ACFTA) awal Januari 2010 membuat Ketua Umum Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo), Ambar Tjahyono berpesan kita harus merebut pasar China.
"Saat ini Indonesia sedang digempur oleh produk-produk buatan China akibat diberlakukannya ACFTA. Maka kita harus merebut pasar China," ucap Ambar pada acara Press Conference and Technical Meeting di Lawu Room, Gedung Pusat Niaga, JIExpo, Kemayoran, Rabu (3/2/2010).
Sejak ACFTA diberlakukan pada awal Januari 2010, pemerintah China telah melakukan banyak perbaikan disegala lini seperti: infrastruktur, areal industri, energi, stimulan terhadap industri, bunga bank, stimulan langsung ketika melakukan ekspor, membuka areal usaha, pengembangan teknologi yang sinergi, penguatan asosiasi.
Pengusaha China mulai membangun kerja sama dengan pengusaha-pengusaha Indonesia untuk mulai memasukkan barangnya ke Indonesia. Semua hal ini, mendorong China untuk menjadi negara eksportir nomor satu dan mempunyai devisa tertinggi di dunia. Hal ini mengakibatkan naiknya ekonomi China, sehingga mempunyai daya beli yang kuat terhadap produk dalam negerinya. Produk furnitur China sebanyak kurang lebih 60 persen diserap pasar dalam negeri dan sisanya diekspor.
Sementara itu dampak ACFTA bagi industri kerajinan tangan dan mebel Indonesia berakibat semakin banyaknya pengurangan tenaga kerja dari sektor funitur dan kerajinan. "Akibat diberlakukannya ACFTA menimbulkan potensi loss tenaga kerja dari sektor funitur dan kerajinan, diperkirakan sampai dengan bulan Juni 2010, sekitar 150 ribu orang dan sampai dengan bulan Desember diperkirakan mencapai 500 ribu orang," ucap Ambar.
Ambar menambahkan mempertahankan industri adalah tanggung jawab negara, karena jika industrinya kuat maka rakyatnya akan sejahtera. Dirinya tak menampik peran serta dari swasta juga diperlukan guna mempertahankan industri dibidang mebel dan kerajinan tangan ini.
"Swasta dan pemerintah itu ibarat satu sisi mata uang yang tidak dapat saling dipisahkan. Pemerintah mengatur regulasi dan swasta sebagai pemodal sekaligus yang membantu menjalankan bisnis ini. Semuanya harus berjalan bersama agar terjadi satu sinergi, jangan malah pemerintah tinggal diam dan melepas begitu saja," ucap Ambar.
Menanggapi gempuran produk China ke Indonesia, Ambar menanggapi dengan optimis bahwa sebenarnya kita bisa melawannya dengan produk hasil tangan bangsa Indonesia Sendiri. "Kita bisa melawan gempuran itu bahkan kita bisa merebut pasar China. Kita buat pameran kerajinan tangan, mebel yang tentunya barang tersebut memiliki kualitas yang bagus dan mempunyai daya jual, dan bukan sampah seperti produk China yang sangat rendah kualitasnya," katanya.
Pemerintah, lanjut Ambar, bisa mendukung lewat pemberian dana promosi. Sesungguhnya produk furnitur dan kerajinan tangan dari Indonesia tidak kalah kualitas dengan produk dari China. "China paling jagonya meng-copy barang, itulah cacatnya dari China. Namun China tidak jago untuk meng-copy bahan bakunya. Indonesia masih memiliki bahan baku yang berkualitas salah satunya kayu jati yang sering digunakan pada ukir-ukiran dari Jepara," ucap Ambar.
Cara lain yang diutarakan oleh Ambar dalam menanggapi gempuran produk China antara lain memberikan garansi pada barang-barang kerajinan tangan dan furnitur sehingga para pembeli semakin yakin akan kesungguhan daripada produk lokal, pemerintah seharusnya melakukan program filterisasi produk-produk China agar tidak semua berbagai jenis produk China masuk ke Indonesia.
"Filterisasi harus diberlakukan, contohnya filter terhadap barang-barang buangan dari China yang gagal dikirim ke Timur Tengah, dan barang-barang reject lainnya. Sehingga Indonesia tidak terlalu dibanjiri barang-barang buatan China," ucap Ambar.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang