Perbankan china

Siklus Tahun Macan dan Ekonomi Dunia

Kompas.com - 04/02/2010, 02:52 WIB

Dua belas tahun lalu, Tahun Macan 1998 menjadi tahun paling suram bagi perbankan China. Empat bank terbesarnya dibebani kredit macet berukuran raksasa. Kredit bermasalah mencapai rata-rata 20-25 persen aset. Pemerintah China terpaksa melakukan penyehatan dengan mengeluarkan aset busuk dan menyuntik bank-bank terbesarnya dengan obligasi senilai 270 miliar yuan. Biaya yang teramat mahal karena setara dengan 16 persen keluaran ekonomi China saat itu.

Pada Tahun Macan berikutnya, dunia sangat berubah. Krisis kredit global telah menjungkalkan Citigroup, Royal Bank of Scotland, UBS, Merrill Lynch, dan Wachovia yang puluhan tahun bercokol di papan atas institusi keuangan dunia.

Yang mengejutkan, sebagai gantinya tiga posisi teratas perbankan dunia diisi oleh Industrial and Commercial Bank of China (ICBC), China Construction Bank, dan Bank of China. Ketiganya, yang sempat masuk bank paling bermasalah di China, kini menjadi bank terbesar di dunia berdasarkan nilai kapitalisasi. Semuanya terjadi hanya dalam 12 tahun.

Peran perbankan

Faktor pendorong perbankan China bermutasi dari contoh terburuk perbankan menjadi perbankan kelas dunia terkait dua hal. Pertama, tingginya tingkat tabungan rakyat China (di atas 40 persen produk domestik bruto) memang membantu. Namun, hal kedua yang menjadi hal terpenting adalah kemampuan perbankan China menjadi pendorong ekonomi.

Luput dari perhatian umum, bangkitnya ekonomi China pasca-krisis lalu bukan semata didorong paket stimulus ekonomi 4 triliun yuan dari Pemerintah China. Efek terbesar dari pertumbuhan ekonomi China lebih dominan berasal dari ekspansi kredit yang terjadi di perbankan China.

Sebagai reaksi atas krisis dan sebagai mekanisme kontra siklikal, pada bulan Januari 2009 Bank Sentral China secara drastis melonggarkan kriteria dan pagu kredit perbankan. Akibatnya, muncul ledakan kredit baru. Pada semester pertama 2009 saja, perbankan China menyalurkan 7,4 triliun yuan kredit baru yang segera memacu kembali ekonomi dari kelesuan pasar ekspor.

Angka kredit baru itu adalah pertumbuhan kredit tertinggi China sepanjang masa. Hingga 2009 berakhir, kredit perbankan China bertumbuh 9,6 triliun yuan.

Angka ini lebih dari dua kali lipat rekor pertumbuhan kredit sebelumnya yang terjadi pada tahun 2008, hanya sesaat sebelum krisis global meletup.

Limpahan kredit baru tersebut mencetus lonjakan konsumsi dan produksi di seantero China. Rekor baru penjualan mobil dan berbagai barang konsumsi lainnya pun terpecahkan. Industri China pun terbantu keluar dari tekanan kelesuan ekspor.

Efek yang dicapai pun bersifat global. Impor bahan mentah melonjak tajam. Harga dunia atas berbagai komoditas industri seperti tembaga, aluminium, nikel, hingga minyak dan batu bara kembali menguat. Secara tidak langsung peningkatan impor bahan mentah ini turut menyelamatkan ekonomi beberapa negara penghasil komoditas, seperti Australia, Kanada, dan Afrika Selatan.

Masalah kredit

Namun, tentu saja segala ekses memiliki sisi buruk, termasuk ledakan kredit perbankan China. Laporan dari badan keuangan China menyebutkan bahwa banyak dari kredit baru yang disalurkan ternyata disalahgunakan untuk tujuan spekulatif. Ekonom Andy Xie dari majalah Caijing mencatat bahwa kendati kredit melonjak 25 persen pada semester pertama 2009, loan-to-deposit ratio hanya meningkat 1,6 persen. Ini indikasi awal banyaknya kredit yang tidak mengalir ke aktivitas ekonomi riil.

Pasar saham, pasar komoditas, dan sektor properti menjadi tujuan utama kredit spekulatif. Di pasar saham, indeks Shanghai Composite sepanjang 2009 menguat 50 persen lebih, padahal ekonomi China membukukan pertumbuhan terburuk selama 10 tahun terakhir. Harga masih meningkat kendati valuasi tidak lagi murah. Rata-rata saham diperdagangkan pada posisi lebih dari tiga kali nilai buku dan berpuluh kali angka proyeksi laba.

Di sektor komoditas, baik perusahaan maupun individu membeli dan menumpuk komoditas dalam skala raksasa. Sebagaimana dilaporkan Jeremy Goldwyn dari Sucden, sebuah lembaga penelitian pasar yang berkedudukan di London, di luar cadangan resmi tembaga yang tercatat di Shanghai Futures Exchange sebesar 97.000 ton, diperkirakan terdapat cadangan gelap di tangan para spekulan individu. Volumenya diperkirakan sebesar 50.000 ton dan hampir seluruhnya dibiayai oleh kredit perbankan.

Misalokasi kredit lainnya muncul di sektor properti. Walaupun dikenai peningkatan pajak penjualan, harga properti kembali melonjak sejak paruh kedua tahun 2009 dan terjadi di tengah peningkatan pasokan baru sebesar 2 miliar meter persegi. Mencemaskan, karena harga hunian perkotaan di China setara tiga bulan gaji per meter persegi dan diperkirakan termahal di dunia di tingkat masyarakat umum.

Rem kredit

Otoritas moneter China sadar akan bahaya mengancam. Dua minggu pertama 2010, perbankan China menggelontorkan lebih dari 1 triliun yuan kredit baru. Bank Sentral China bereaksi keras dan cepat. Tingkat suku bunga kredit dinaikkan dua kali dalam tempo sebulan terakhir, sementara kuota kredit diketatkan. Bersamaan dengan langkah tersebut, perbankan China juga diminta menaikkan porsi kecukupan modal lewat penerbitan saham baru.

Efeknya terasa, baik di dalam China maupun di Asia. Indeks Bursa Shanghai, Shenzhen, dan Hongkong terpuruk dan melebar hingga ke seluruh penjuru emerging market dari Jakarta hingga Brasil. Tak hanya itu, harga komoditas, mulai dari minyak mentah hingga tembaga dan nikel, ikut mengalami koreksi tajam.

Terdapat kecemasan kolektif antara otoritas moneter China dan masyarakat finansial dunia. Volume kredit bermasalah dapat meningkat dan melumpuhkan perbankan bila penyaluran kredit masih berlangsung tanpa kendali dan bersifat spekulatif. Belum ditambah peningkatan risiko inflasi.

Terbayang kembali apa yang pernah terjadi di Jepang pada tahun 1990, yang saat itu juga menjadi sistem perbankan terbesar di dunia. Kredit macet di sektor properti dan spekulasi saham telah mendera ekonomi Jepang dan mengakibatkan resesi kronis yang berlangsung hingga dua dekade berikutnya.

Bila Tahun Macan 12 tahun lalu menjadi titik nadir perbankan China dan Tahun Macan 2010 menjadi titik zenit, berada di manakah perbankan China pada Tahun Macan berikutnya? Pertanyaan penting mengingat di mana pun perbankan China nanti berada, di situ pula ekonomi dunia boleh jadi akan berada.

Poltak Hotradero Peneliti Keuangan serta Pemerhati Ekonomi pada Centre for Chinese Studies

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau