FPI: Andi Soraya Miyabi-nya Indonesia

Kompas.com - 04/02/2010, 17:25 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Bukan tanpa alasan jika organisasi masyarakat (ormas), Front Pembela Islam (FPI) sempat menentang keras penayangan film "Hantu Puncak Datang Bulan". FPI menilai bahwa Andi Soraya, artis yang membintangi film tersebut sama seperti bintang prono asal Jepang, Maria Ozawa a.k.a Miyabi.

 

"Andi Soraya ini Miyabi-nya Indonesia, dia membawa teror bom kemaksiatan," Ketua DPD FPI Jakarta, Habib Salim Bin Umar Al Athos, dalam dialog antara FPI dengan Lembaga Sensor Film (LSF) di Gedung Film, Jakarta Selatan, Kamis (4/1/2010)

 

"Kita datang ke sini karena ada film yang meresahkan umat Islam, "Hantu Puncak Datang Bulan"," kata Salim

 

Lebih lanjut Salim mengatakan, FPI juga sempat tersinggung dengan ucapan Andi Soraya di HU. Warta Kota, yang mengaku tak takut dengan ormas. "Film yang dibintangi Andi Soraya yang di Warta Kota menantang kalau dia tidak takut ormas-ormas," tegas Salim.

 

Namun, untuk mengantisipasi agar isu tidak melebar FPI langsung mengonfirmasinya ke LSF. "Kita mau tanyakan kalau film ini sudah disensor atau belum karena di internet ditulis sudah disensor dan disaksikan ulama dan ormas," ungkap Salim. "Insya Allah kedatangan kita bisa mempererat tali persaudaraan," ujarnya. (C9-09)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau