KPK: Kami Tidak Menunggu Pansus Century

Kompas.com - 04/02/2010, 20:29 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dalam mengusut skandal dana talangan Bank Century senilai Rp 6,7 triliun, tidak akan menunggu hasil rekomendasi akhir Pansus Hak Angket Kasus Bank Century terlebih dulu.

Sebelumnya, beberapa pengamat politik berpendapat, KPK saat ini masih menunggu proses penyelesaian kasus Bank Century secara politik. "Pansus dan KPK adalah dua lapangan yang berbeda. KPK tidak dalam posisi menunggu (penyelesaian oleh) Pansus. Tidak ada relevansinya menunggu Pansus. Relevansinya adalah alat bukti," tegas Wakil Ketua KPK Chandra M Hamzah pada rapat konsultasi dengan Pansus, Kamis (4/2/2010) di DPR RI, Jakarta.

Chandra, yang hadir bersama jajaran pimpinan KPK lainnya, mengatakan, miris melihat terjadinya kasus Bank Century. Chandra menilai ada yang salah dalam sistem perbankan Indonesia sehingga skandal dana talangan tersebut terjadi.

"Ada banyak diskusi untuk mengatasi kesalahan yang ada. Undang-Undang Perbankan perlu ditinjau lagi," ujar Chandra. Sementara itu, Plt Ketua KPK Tumpak Hatorangan Panggabean mengatakan, saat ini lembaga antikorupsi yang dipimpinnya masih terus menelusuri aliran dana Bank Century, yang merupakan gabungan Bank CIC, Danpac, dan Pikko.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau