WASHINGTON, KOMPAS.com - Kendati pemerintah Swiss menerima kehadiran warga Uighur yang baru dilepas dari tahanan Guantanamo, ternyata tidak mudah memberikan mereka tempat penampungan.
Seorang pengacara untuk salah satu bekas tahanan Uighur itu mengatakan tim masih mencari rumah yang sesuai bagi warga minoritas China tersebut setelah Beijing marah lantaran Swiss menerima kehadiran dua orang ini.
Seperti diwartakan sebelumnya, Swiss memutuskan akan membawa sejumlah warga Uighur ini dari penjara Guantanamo karena mereka telah dibebaskan dari kesalahannya. Beberapa orang disebar ke Albania, Bermuda dan daerah-daerah lainnya. "Sedangkan lima sisanya, saat ini belum ada tawaran," kata Susan Baker Manning, seorang pengacara yang mewakili Hammad Memet, salah satu dari lima laki-laki itu.
"Kami telah melakukan upaya untuk mencoba mencari resolusi lain untuk klien kami," katanya, sambil menolak untuk mengomentari spesifik.
"Ini sangat sulit bagi setiap negara yang bersedia memberikan tempat perlindungan orang-orang ini, karena tekanan besar China terhadap orang-orang yang melakukan protes," katanya.
Seperti diketahui, Presiden Barack Obama telah berjanji untuk menutup pusat penahanan Teluk Guantanamo. Tapi dia telah bertemu oposisi, bahkan dalam kasus Uighur ini. Para anggota parlemen menolak warga Uighur itu ditempatkan di Amerika, meskipun pihak berwenang mengatakan mereka tidak menimbulkan risiko.
Menurut otoritas setempat, sejumlah orang yang keluar dari Guantanamo telah mendirikan kamp di Afganistan dan berbalik menjadi kelompok militan. China telah meminta kembali mereka yang pernah ditahan itu, tetapi Amerika Serikat telah menolak, karena takut mereka akan menghadapi penyiksaan.
China telah menekan negara-negara lain untuk tidak menerima mereka dan memperingatkan bahwa keputusan Swiss untuk memberikan suaka kepada dua Uighur akan merusak hubungan.
Uighur adalah daerah wilayah barat laut China, Xinjiang, yang didominasi Muslim. Banyak warga Uighur yang kritis terhadap pemerintahan China, lantaran hak-hak politik dan beragama mereka ditindas.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang