PPP: Ada Tekanan yang Sengaja "Didesain"

Kompas.com - 05/02/2010, 15:19 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pernyataan terbuka adanya tekanan terhadap partai koalisi yang bersikap kritis dalam Pansus Angket Kasus Bank Century juga diakui Partai Persatuan Pembangunan (PPP) melalui Wakil Sekjen Romahurmuzzy.

Sebelumnya, Golkar mengakui merasakan adanya tekanan politik. Romahurmuzzy, yang akrab disapa Rommy, ini bahkan mengungkapkan, tekanan-tekanan tersebut juga melanda partainya. Berbagai kasus yang diduga melibatkan kader PPP dinilai sebagai sebuah sinyal tekanan yang sengaja didesain.

Ia menyebutkan, penetapan Ketua Majelis Pertimbangan Pusat DPP PPP Bachtiar Chamsyah dalam kasus dugaan korupsi pengadaan sapi impor dan mesin jahit tepat sehari setelah Munas PPP yang menyatakan sikap awal terkait kasus Century.

"Tetapi, PPP tidak gentar dengan dorongan bertubi-tubi yang memberi tekanan psikis kepada PPP. Kebetulan-kebetulan yang berulang, bisa kita lihat sebagai desain. Aneh kalau kebetulan yang berulang tidak dilihat sebagai sebuah desain. Banyak kebetulan yang berulang. Penetapan tersangka Pak Bachtiar Chamsyah salah satunya," kata Rommy, yang juga anggota Pansus Century, dalam diskusi mingguan di Gedung DPR, Jakarta, Jumat (5/2/2010).

Kebetulan lainnya, ungkap dia, sehari setelah penetapan Bachtiar sebagai tersangka, berkas kasus kader PPP yang menjadi tersangka korupsi, Endin AJ Soefihara, juga dinyatakan lengkap alias P-21.

"Kebetulan lain, vila anggota Pansus di Halimun juga diangkat ke permukaan. Penyoalannya, kok semuanya kebetulan menjelang keputusan Pansus," ujarnya.

"Kalau dalam teori rekonstruksi, ada koinsidensi yang terus-menerus," lanjut Rommy.

Tekanan-tekanan tersebut, ditegaskannya, tidak akan memengaruhi sikap Fraksi PPP terhadap hasil pemeriksaan saksi di Pansus Century. Dikatakan Rommy, partainya akan mengambil sikap terhadap fakta dan data yang terungkap berdasarkan 5 ukuran yang telah ditetapkan.

Kelima ukuran tersebut adalah ada atau tidaknya perbuatan melawan hukum, institusi atau siapa yang harus bertanggung jawab, pasal apa yang dilanggar, apakah ada pihak yang diuntungkan akibat kerugian negara yang ditimbulkan, dan apa motif yang melatari perbuatan melawan hukum.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau