Batik Papua Dicari di Dalam dan Luar Negeri

Kompas.com - 07/02/2010, 16:47 WIB

JAYAPURA, KOMPAS.com — Wakil Gubernur (Wagub) Provinsi Papua Alex Hesegem mengimbau kepada semua pejabat dan masyarakat agar memakai batik motif Papua produksi lokal.

"Kalau kita di Papua saja belum pakai batik Papua, bagaimana mengenalkan pada orang luar," kata Alex Hesegem, Minggu (7/2/2010).

Ia menjelaskan, batik Papua sudah mulai mendapat tempat di pasaran nasional hingga mancanegara sehingga menjadi suatu kebanggaan bagi pejabat dan masyarakat di Papua untuk memakainya.

"Kalau kita sudah memakainya, barulah kita bisa mengajak orang lain untuk mengikutinya," ujarnya.

Selain batik Papua, masih banyak produk asli Papua lainnya yang mempunyai keunikan tersendiri dan sangat baik untuk dipakai ataupun dikonsumsi masyarakat.

"Dengan menggunakan produk buatan Papua, secara tidak langsung kita juga telah mengenalkannya, serta membantu pembangunan di Papua," sambungnya.

Alex juga mengajak seluruh komponen di Papua untuk mengembangkan dan mengenalkan semua potensi yang ada di Papua kepada masyarakat luar.

"Banyak potensi alam maupun kerajinan di Papua yang belum diketahui dunia luar," katanya.

Batik dengan motif Papua saat ini memang sedang memperoleh banyak perhatian dan peminat dari masyarakat luar Papua hingga mancanegara.

Salah satu pelopor desainer batik motif Papua yang telah banyak dikenal hingga dunia internasional adalah Jimmi Affaar.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau