KANDAHAR, KOMPAS.com — Operasi Mustharak ini dilakukan setelah Presiden Amerika Serikat Barack Obama, Desember lalu, mengumumkan rencananya menambah pasukan di Afganistan.
Presiden Obama beralasan, penambahan pasukan diperlukan untuk memerangi gerilyawan Taliban guna memuluskan jalan bagi pemerintah yang berkuasa atas pembangunan Afganistan.
Amerika Serikat dan NATO (Pakta Pertahanan Atlantik Utara) mengirim 40.000 tentara tambahan untuk memperkuat 113.000 tentara yang sudah berada di Afganistan.
Menurut Brigjen Marinir Larry Nicholson, Marjah merupakan ancaman bom terbesar yang pernah dihadapi NATO. Dari 57 tentara asing yang tewas di Afganistan sejauh ini, sebagian besar akibat serangan bom rakitan.
Serangan di Marjah membuka jalan satu strategi baru kontra pemberontakan yang digagas oleh Jenderal AS Stanley McChrystal, yang memimpin pasukan asing di Afganistan.
Dalam konferensi internasional di Istanbul, Turki, pekan lalu, ia menyatakan, "Situasi di Afganistan serius, tetapi tidak lagi memburuk. karena kami telah membuat kemajuan penting. Dan kami akan membuat kemajuan baru tahun 2010."
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang