"Kami tak mau mbalelo, tak mau berkonflik dengan saudara sendiri. Bagaimanapun, saya bagian dari keluarga besar TNI. Saya, sebagai mantan prajurit, memahami, TNI butuh rumah untuk prajurit aktifnya. Tapi, perlakukanlah kami secara manusiawi.”
KOMPAS.com — Itulah kata-kata yang meluncur dari Kolonel (Purn) Kartono (81), seorang purnawirawan TNI Angkatan Darat. Di usia tuanya, Kartono masih tampak bugar dan lancar berkomunikasi. Hanya fungsi pendengarannya yang sedikit berkurang. Ingatannya masih cukup tajam, merekam kisah ke puluhan tahun silam saat ia pertama kali menginjakkan kaki di Kompleks Kesatriyan, Bearland, Matraman, Jakarta Timur.
Sejak tahun 2007 pikirannya tak lagi tenang. Jiwanya dilanda keresahan, tepatnya sejak terjadi pengosongan rumah beberapa sejawatnya di perumahan tersebut. Perumahan di kawasan Matraman itu memang dikenal sebagai Kompleks TNI Angkatan Darat. Meskipun, menurut para penghuninya, jika menilik sejarah, kawasan itu tak bisa diklaim sebagai kompleks rumah dinas TNI Angkatan Darat.
Pada April 2008, Kartono dan lima purnawirawan mendapat panggilan dari Kodam Jaya. Mereka diberi tahu soal rencana pengosongan rumah. Keenam rumah mereka, kata Kodam Jaya, diperlukan untuk digunakan peserta kursus Renstra dari Bandung ke Jakarta.
“Dalam pertemuan itu saya katakan, pengosongan rumah selalu ada kekerasan. Saya tidak mau itu terjadi. Kita kan sama-sama keluarga besar TNI. Saya tahu TNI butuh tanah. Tapi, saya juga masih butuh untuk tetap hidup. Kalau TNI pakai kata 'pokoknya', tidak akan ada solusi. Pasti ada korban. Saya juga bertanya, katanya purnawirawan boleh menempati sampai mati,” kata Kartono kepada Kompas.com dalam pertemuan para warga Bearland, Minggu (7/2/2010) di Jakarta.
Setelah beberapa kali memenuhi panggilan, tak ada lagi kelanjutan. Namun, Kartono dan para purnawirawan lain yang masih hidup tetap saja resah. Informasi adanya truk TNI yang melintas selalu saja membuat hatinya dag-dig-dug. Tak ayal, kata Kartono, hal ini memicu gangguan kesehatan pada sejumlah purnawirawan yang resah kehilangan tempat tinggal di usia senjanya.
“Hidup menjadi tidak tenang. Saya kalau bicara bisa ketawa-ketawa. Tapi, saya waswas, kalau digusur saya mau ke mana? Saya juga tidak mau yang mewah-mewah, hanya saja di hari tua janganlah dibuat sengsara,” ujarnya.
Kartono melanjutkan, proses dialog dan komunikasi, itu yang diharapkan untuk menemukan solusi terbaik bagi purnawirawan maupun TNI. Selama ini, menurut warga, peluang tersebut tak pernah dibuka. Perintah pengosongan yang dilakukan beberapa bulan sebelumnya seakan tak bisa dibicarakan lagi.
Sejak 1963
Kartono sudah mendiami rumahnya di Jalan Kesatriyan VI sejak tahun 1963. “Dari 1963 sampai 2007 kami hidup tenang, damai, tidak pernah ada macam-macam. Sejak 2008, kok banyak macamnya,” kata Kartono.
Berpuluh-puluh tahun menempati rumah, menurut UU Pokok Agraria Nomor 5 Tahun 1960, ia dan warga lainnya seharusnya sudah bisa mendaftarkannya sebagai hak milik. Namun, hingga saat ini upaya tersebut belum mendapatkan respons. Sebagai mantan prajurit dan pejuang veteran, ia berharap dapat diperhatikan haknya semasa hidup. Bukan mengharap pamrih dari sumbangsih keringat yang telah diberikannya kepada negara.
Kartono sedih dengan kepedulian negara terhadap para mantan prajurit dan pejuang veteran. Sebelum aktif di TNI AD, ia turut berjuang dalam Tentara Zeni Pelajar pada tahun 1945-1947. Kala itu usianya menginjak 18 tahun. “Setelah tahun 1950, saya dapat kesempatan masuk sekolah perwira zeni dan tahun 1957-1958 sempat dikirim untuk mengikuti kursus di Amerika Serikat,” kisah Kartono.
Gelar sebagai pejuang veteran pun diraih tanpa diminta. “Dengan gelar itu, saya dapat tunjangan yang namanya sangat megah, yaitu dana kehormatan veteran sebesar Rp 250.000. Dulu saya enggak mikir dan berharap dapat ini-itu, yang penting berjuang. Tapi, sudah tua begini, diusik kok resah juga. Saya ini enggak punya tanah. Investasi saya, penghargaan saya hanya kavling 2 x 1 meter di Kalibata (Taman Makam Pahlawan),” ujarnya.
Pekan depan, satu lagi rumah koleganya akan kembali dikosongkan. Kartono dilanda keresahan kalau-kalau giliran itu akan tiba padanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang