Presiden: Kritik ibarat Obat

Kompas.com - 08/02/2010, 11:55 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Saat memberikan pengarahan dalam pembukaan Rapim Polri 2010, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyinggung mengenai kritikan dari masyarakat. Ia menyambut baik kritikan yang membangun.

"Ibarat obat, jika kritik itu sesuai dengan dosis, apalagi disertai dengan solusi, kritik itu akan menjadi obat kita yang mujarab. Sebaliknya jika overdosis, kritik itu malah akan membuat kita lebih sakit," ujar Presiden di Mabes Polri Jakarta, Senin (8/2/2010),

Pada kesempatan itu, SBY sama sekali tidak menyinggung mengenai aksi demo yang dinilai tidak sopan dan etis seperti saat menyampaikan pengarahan di rapat kerja pemerintah di Cipanas, pekan lalu.

Dia juga tidak menyinggung soal penanganan kasus Bank Century ataupun soal pemakzulan.

Namun, Presiden juga sempat mengulang pertanyaan seorang taruni pada saat pelantikan taruna TNI dan Polri pada Desember lalu. Presiden mengutip kembali pertanyaan seputar kasus pimpinan KPK Chandra Hamzah dan Bibit Samad Rianto beserta jawaban Presiden, yang meminta Polri harus menghadapinya dengan sikap yang jernih, rasional, tenang serta tidak emosional untuk tetap melakukan evaluasi dan retrospeksi.

Demokrasi

Pada kesempatan itu, Presiden mengatakan, Indonesia saat ini berada dalam proses pematangan demokrasi. Proses ini merupakan proses yang sangat penting untuk mewujudkan tujuan akhir berbangsa dan bernegara. Oleh sebab itu, dalam proses ini kegagalan bukan opsi dalam proses demokrasi yang tengah dimatangkan ini.

"Salah satu dari tiga pilar penting untuk lima tahun ke depan adalah demokrasi, selain peningkatan kesejahteraan rakyat dan pemenuhan rasa keadilan. Demokrasi kita saat ini berada dalam proses pematangan. Ini merupakan tahap yang paling penting, karena itu, kita tidak mengenal opsi kegagalan demokrasi dalam proses sekarang ini," tandas Presiden.

Menurut Presiden, dalam proses pematangan demokrasi ini, semuanya harus bisa berjalan, seperti sistem politik, check and balances, kelembagaan budaya politik, konstitusionalitas, pemilu, dan kepatuhan terhadap aturan hukum yang berlaku. "Proses seperti itulah yang ditunggu dalam proses demokrasi kita. Oleh karena itu, semua proses itu harus bisa dijalankan sebaik-baiknya," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau