Antony Rubin Rhodes, The Mertasari, dan Arsitektur Tropis

Kompas.com - 08/02/2010, 22:21 WIB

KOMPAS.com - The Mertasari, salah satu villa "hi-tech" di Sanur, Bali, yang mengedepankan konsep arsitektur tropis. Bangunan ini merupakan perpaduan antara masa lalu yang diwakili oleh arsitektur tropis dan masa depan yang diwakili peralatan "hi-tech" di sudut-sudut bangunan ini.

Antony Rubin Rhodes yang membangun villa ini mengungkapkan, The Mertasari meniru konsep Batu Jimbar Estate, perumahan tropis pertama di Bali pada abad ke-21, yang dikombinasikan dengan konsep modern. "Kami menggunakan bahan-bahan alami dari Indonesia, kecuali peralatan dapur," kata Antony Rubin kepada Kompas.com yang mengunjungi villa-nya di Sanur, Bali, akhir Januari 2010 lalu.

Elemen-elemen bangunan ini menghadirkan eco-property yang sesungguhnya, seperti yang tercermin dalam penggunaan kayu, penghematan energi (listrik dan AC) dan daur ulang air kotor/limbah.

The Mertasari dibangun mengacu pada konsep harmonisasi yang diyakini masyarakat Bali, yang dikenal sebagai Tri Hita Karana, yaitu hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam.

Arsitektur tropis dikembangkan kali pertama pada perumahan Batu Jimbar Estate di Sanur, Bali. Donald Friend, Geoffrey Bawa, kemudian Peter Muller dan Kerry Hills beserta mitra lokal mereka mengembangkan konsep ini pada awal tahun 1970-an di Bali. Konsep ini memisahkan "living room" dan "bedroom" dengan taman berada di antaranya. Mereka menggunakan bahan-bahan material lokal yang alami dari Indonesia. Arsitektur gaya baru dari Sanur ini kemudian menyebar ke seluruh Bali dan juga ke seluruh dunia dengan cepat. Gerakan arsitektur ini dikenal secara internasional sebagai "Tropical Asian Style"

Prinsip utama arsitektur tropis ini bertujuan menciptakan harmonisasi dalam rumah, ruang keluarga dan ruang tidur yang terpisah dan terbuka, dengan taman yang penuh tanaman dan pepohonan, dan kolam renang alami. The Mertasari menggabungkan tradisi Bali di masa lalu dan "hi-tech" yang modern menjadi perpaduan yang harmonis.

"Di The Mertasari, kami ingin menunjukkan Bali merupakan surga kebudayaan dan lingkungan. Desainer dan konsultan memilih menggunakan bahan-bahan lokal dengan standar internasional untuk green building. Bangunan ini dikendalikan oleh sistem rumah cerdas yang membantu meminimalisir penggunaan listrik dan AC agar penggunaan energi lebih efisien. Juga memanfaatkan teknik pencahayaan yang mengacu pada konsep tradisional Bali," ungkap Antony.

Bukan itu saja. Lantai rumah menggunakan bahan alami dengan tekstur yang indah. Sedangkan bathroom terbuat dari batu-batu alami setempat. Ruang tidur dibuat dengan dinding transparan sehingga penghuninya dapat merasakan langsung suasana alam di luarnya.

The Mertasari bebas dari bahan kimia, dengan kolam renang yang alami dan taman air yang dibersihkan melalui sistem sterilisasi. Airnya pun aman untuk langsung diminum. Ini wajar saja karena The Mertasari menggunakan standar Green Building Amerika dan panduan pembangunan khas Bali, Tri Hita Karana yang mengutamakan harmonisasi dan keseimbangan.

Antony Rhodes Rubin berkebangsaan Inggris, memulai kariernya sebagai surveyor di Kota London, sebelum beralih ke bisnis pedagangan komodiri di Asia. Setelah datang ke Bali, Antony jatuh cinta pada Bali dan tinggal di sini lebih dari 10 tahun, sampai kemudian membawanya masuk ke bisnis hospitality global.

Saat merancang The Mertasari, Antony dibantu oleh arsitek Bali, Ketut Arthana, Gavin Essex, Ketut Hardika, Anthony Shishler, DSaryl Parker, dan Mathiey Gander. Ketut yang belajar Urban Estate Management dari Westminster University ini, pernah merancang hotel di Taiwan, resort di St Martin, Costa Rica, dan Maldives, lalu rumah pribadi di Hawaii, AS dan Jepang, serta sejumlah villa, hotel, dan spa di Indonesia.  

Villa yang dikunjungi Kompas.com sebetulnya contoh (mocked-up) villa The Mertasari yang dibangun di lahan seluas 1.700 meter persegi. Rencananya, akan dibangun 17 villa serupa di lahan seluas empat hektar di Pantai Mertasari.  

Yang menarik dari villa ini adalah begitu banyaknya "pintu rahasia" yang dibuat sedemikian rupa sehingga tamu pun tak mengira dinding di dekatnya adalah "pintu rahasia". Di balik "pintu rahasia" ini, terdapat ruang baca, perpustakaan, ruang cerutu dan anggur.

Lalu berapa biaya yang dihabiskan untuk membangun villa The Mertasari ini? "I can't say that. Tapi Anda dapat menghitungnya sendiri karena kami menggunakan bahan material terbaik. Yang pasti ini ide gila saya, yang kemudian diwujudkan dalam bentuk villa yang dapat Anda lihat sekarang," kata Antony. (Robert Adhi Ksp) 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau