WASHINGTON, KOMPAS.com - Rencana Iran untuk pengayaan produksi uranium dinilai sebagai langkah provokatif dan menimbulkan keprihatinan mendalam. Menurut seorang pejabat AS, langkah itu justru akan membawa konfrontasi diplomatik yang lebih tajam dalam hubungan Republik Islam itu dengan negara-negra Barat.
Seperti diketahui, Iran menyatakan membutuhkan bahan bakar untuk riset reaktor di Teheran guna membuat radioisotop untuk keperluan medis seperti pengobatan kanker. Namun Barat bersikukuh menduga itu dilakukan untuk keperluan pengembangan senjata nuklir.
Pejabat AS, yang enggan disebut namanya ini menyebut alasan itu tak masuk akal. "Pengumuman ini merupakan langkah provokatif bertentangan dengan resolusi Dewan Keamanan PBB," kata pejabat itu kepada AFP.
"Pemerintah Iran tahu bahwa hal ini tidak akan memenuhi kebutuhan rakyat Iran, dan menciptakan lebih banyak risiko ketidakstabilan regional."
Seperti diwartakan, Iran sebelumnya mengatakan kepada badan pengawas nuklir PBB bahwa mereka akan melakukan pengayaan produksi uranium yang lebih tinggi. Kepala badan atom Teheran, Ali Akbar Salehi, mengatakan bahwa proses pengayaan lebih tinggi akan mulai di pabrik nuklir Natanz pada hari Selasa.
"Jika pemerintah Iran mengambil ini langkah, itu akan semakin merusak kepercayaan diri dan meningkatkan perhatian serius tentang niat nuklir Iran, terutama setelah pengungkapan fasilitas pengayaan Qom. "
Amerika Serikat, Perancis dan Britania dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) PBB tahun lalu mengungkap bahwa Iran sedang membangun pabrik pengayaan uranium di dekat kota suci selatan Teheran yang sampai sekarang masih dirahasiakan.
IAEA telah mengusulkan kesepakatan, yakni akan melihat kapal Iran yang membawa persediaan uranium yang diperkaya rendah (PHE) ke Rusia untuk diproses lebih lanjut. Namun Iran melihat kesepakatan itu hanya tipu muslihat oleh Barat untuk menyita uranium yang mereka simpan.
Masyarakat internasional memberikan Iran sampai akhir tahun 2009 untuk menerima kesepakatan, namun tenggat waktu itu diabaikan. Ini membuat munculnya gerakan memberikan sanksi baru terhadap Republik Islam itu.
Menteri Pertahanan Amerika Serikat Robert Gates mengatakan di Roma pada hari Minggu bahwa kini saatnya bagi dunia untuk bersatu dan membangun tekanan terhadap Iran atas konfrontasi nuklir.
"Tak seorang pun berusaha lebih sungguh-sungguh untuk mengulurkan tangan dan terlibat dengan Iran daripada Presiden (Barack) Obama," kata Gates setelah bertemu dengan rekannya dari Italia, Ignazio La russa.
"Masyarakat internasional telah menawarkan pemerintah Iran beberapa kesempatan untuk memberikan kepastian dari niat. Hasilnya sangat mengecewakan. "
"Jika masyarakat internasional berdiri bersama-sama dan membawa tekanan pada pemerintah Iran, saya yakin masih ada waktu untuk sanksi dan tekanan untuk bekerja. Tapi kita semua harus bekerja sama. "
Amerika Serikat, Israel dan kekuatan-kekuatan dunia lain mencurigai Teheran membuat bom nuklir dengan kedok program sipil, namun Iran membantah semua tuduhan itu.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang