”Percayalah, rating (peringkat utang) dari Fitch dan lainnya tidak banyak menolong. Krisis utang di Eropa menyebabkan kepercayaan terhadap lembaga rating anjlok,” ujar ekonom Dradjad H Wibowo di Jakarta, Senin (8/2).
Dradjad menjelaskan, efek berantai krisis utang Eropa membuat obligasi dari negara-negara berkembang seperti Indonesia dimintai imbal hasil yang sangat tinggi. Kementerian Keuangan sebaiknya belajar dari pengalaman tahun lalu saat penerbitan surat berharga digenjot karena krisis keuangan global, maka imbal hasil yang diminta lumayan tinggi.
Di sisi lain, ternyata daya serap anggaran sangat rendah. Meskipun target pajak tidak tercapai, pada akhir tahun terjadi penumpukan sisa anggaran.
”Ini bukti buruknya manajemen likuiditas dan penyerapan anggaran. Likuiditas yang bersumber dari utang mahal ternyata menganggur pada akhir periode,” ujar Dradjad.
Menurut Kepala Ekonom Bank Mandiri Mirza Adityaswara, sebelum terjadi koreksi beberapa hari terakhir ini, penerbitan obligasi valas sebenarnya sangat baik mengingat suku bunganya sangat rendah dan ekonomi global sedang dalam masa pemulihan. Terbukti, saat pemerintah menerbitkan obligasi valas beberapa minggu lalu, bunganya hanya 6 persen.
Awal Januari 2010 dunia dikejutkan oleh potensi krisis utang di Eropa. Rata-rata utang publik di 16 negara anggota Uni Eropa sebesar 84 persen dari produk domestik bruto (PDB) 2010, jauh di atas batas maksimal utang publik menurut Pakta Stabilitas dan Pertumbuhan, yakni 60 persen PDB.
Jerman, yang terkenal disiplin menjaga stabilitas fiskalnya, tahun ini akan menderita kenaikan utang publik 78 persen dari PDB. Perancis utang publiknya 75,8 persen dari PDB pada kuartal III- 2008. Sementara Yunani utang publiknya akan mencapai 120 persen dari PDB pada 2010.
Data Kementerian Keuangan menunjukkan, total penerbitan surat berharga yang sudah dilakukan pemerintah sejak 1 Januari 2010 sebesar Rp 5,045 triliun. Dengan penerbitan sukuk ritel seri SR-002, jumlah surat berharga negara yang sudah diterbitkan pemerintah menjadi Rp 13,078 triliun.
Atas dasar itu, pemerintah masih harus menerbitkan surat berharga Rp 162,522 triliun lagi. Ini untuk memenuhi target penerbitan surat berharga negara tahun ini, yaitu Rp 175,6 triliun.
Pemerintah masih akan menerbitkan beberapa surat berharga dengan denominasi valas, seperti Samurai Bond (obligasi yang diterbitkan dalam denominasi yen dan hanya terbatas di pasar modal Jepang). Selain itu, pemerintah juga menerbitkan surat utang negara berdenominasi dollar AS dan obligasi berdenominasi valas berbasis syariah.
Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan Rahmat Waluyanto menyebutkan, khusus untuk penerbitan obligasi berdenominasi valas ini, pihaknya mengamati perkembangan di pasar obligasi Eropa dan Timur Tengah. Hal ini untuk menentukan jadwal yang tepat bagi pemerintah dalam menerbitkan tiga jenis obligasi di pasar internasional.
”Semuanya kami amati. Yang penting harus tahu kondisi permintaannya. Eropa dan Timur Tengah memang sedang merosot. Namun, kami akan melanjutkan rencana penerbitan yang sudah dijadwalkan,” katanya.
Total pinjaman luar negeri pemerintah hingga akhir 2009 mencapai 64,93 miliar dollar AS atau turun daripada posisi akhir 2008 sebesar 66,69 miliar dollar AS. Adapun total utang pemerintah dari penerbitan obligasi sebesar 104,2 miliar dollar AS. Dengan demikian, total utang pemerintah tahun 2009 sebesar 169,13 miliar dollar AS. Tahun 2008 utang pemerintah hanya 149,47 miliar dollar AS. (OIN/FAJ)