JAKARTA, KOMPAS.com — Ancaman reshuffle yang dikumandangkan Partai Demokrat terhadap menteri yang berasal dari partai koalisi ternyata tak ampuh. Usulan itu disampaikan Demokrat kepada Presiden SBY karena gerah dengan garangnya mitra mereka di Pansus Angket Kasus Bank Century.
Nyatanya, meski wacana itu terus didengungkan Partai Golkar dan PKS, dua partai koalisi yang sering disebut "anak nakal", justru semakin lantang bersuara. Bahkan, secara tak terduga PPP dan PAN pun memilih sikap berseberangan dengan pimpinan koalisinya.
"Ancaman reshuffle yang dikeluarkan Demokrat salah besar, tidak taktis dari sisi komunikasinya. Reshuffle itu konteksnya kinerja, bukan alasan politis. Jadi tidak taktis, kalau reshuffle karena tidak sejalan dengan sikap politik Demokrat," kata Direktur Indo Barometer M Qodari, Selasa (9/2/2010) di Gedung DPR, Jakarta.
Jika reshuffle terjadi, menurutnya, secara hitungan politik juga tidak menguntungkan bagi Demokrat dan pemerintahan SBY. "Akan jauh merepotkan kalau PKS dan Golkar di luar koalisi. Mereka memang anak nakal, tapi kalau di luar koalisi akan menjadi sangat liar," ungkapnya.
Selain itu, perintah SBY yang meminta kasus Bank Century sampai tuntas, melegitimasi aksi partai koalisi di Pansus Century. Kesalahan mengartikan perintah tersebut tak bisa dipersalahkan kepada koalisi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang