Adnan Buyung Malas Komentari Ruhut

Kompas.com - 09/02/2010, 16:12 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Setelah pernyataannya soal pemanggilan Presiden dibalas dengan pedas oleh politisi Demokrat Ruhut Sitompul dalam rapat Pansus Hak Angket Pengusutan Kasus Bank Century DPR RI kemarin, mantan anggota Dewan Pertimbangan Presiden atau Wantimpres, Adnan Buyung Nasution, enggan merespons Ruhut lagi. Menurut kedua asisten Buyung, Bunga dan Rika, Buyung sepakat untuk tidak membalas lagi pernyataan pedas rekan sejawatnya itu.

"Maaf, Mbak, kalau tentang Ruhut, Abang (Buyung) berpesan tidak ingin memberikan komentar lagi. Sudah cukup komentar kemarin di TV," ujar Rika kepada Kompas.com, Selasa (9/2/2010). Hal senada juga ditegaskan oleh Bunga. Perempuan berkacamata ini mengatakan bahwa Buyung dan staf-stafnya sepakat untuk tidak meladeni lagi lontaran-lontaran dari Ruhut.

Dalam rapat kemarin, Ruhut "menyerang" Buyung secara personal dengan mengungkit-ungkit masa lalu Buyung sebagai advokat. "Apalagi ini, profesor bawa-bawa nama Adnan Buyung. Sebagai rekannya malu aku sama dia. Waktu itu, Buyung itu pernah kena tegur sama Ketua Dewan Pembina Demokrat Soeharto. Eh, Dewan Pembina Golkar. Hatinya enggak bersih. Udahlah, Buyung enggak usah didengar," tutur Ruhut.

Ruhut juga menuduh Buyung mengoceh terlalu banyak karena tidak terpilih kembali menjadi anggota Wantimpres dan meminta advokat senior ini untuk tahu diri. Buyung dalam diskusi soal Bank Century, Minggu (7/2/2010), menyatakan bahwa pansus perlu memanggil Presiden Susilo Bambang Yudhoyono jika ingin masalah Century tuntas.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau