Setiap Bulan, Balita Kurang Gizi Bertambah di Bogor

Kompas.com - 09/02/2010, 20:06 WIB

BOGOR, KOMPAS.com - Di Bogor setiap bulannya selalu ada pasien balita penderita gizi buruk baru yang datang ke Klinik Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi Departemen Kesehatan di Jalan Sumeru, Kota Bogor. Puslitbang Gizi berharap ada penangan terpadu untuk mengatasi masalah anak gizi buruk tersebut.

"Hari ini ada dua pasien gizi buruk baru. Yang satu datang dengan rujukan dari Puskesmas Katulampa Kota Bogor, yang satu lagi pasien dari Ciomas Kabupaten Bogor. Januari lalu ibarunya empat orang," kata Bona Simanungkalit, dokter yang menangani pasien gizi buruk di Klinik Puslibang Gizi Bogor, Selasa (9/2/2010).

Tahun 2009 pasien anak gizi buruk baru yang ditangai di klinik tersebut mencapai 59 anak. Tahun 2008 sebelumnya ada 48 anak.

Disebut pasien baru karena pada saat itu, pasien itu untuk pertama kalinya datang dan didaftarkan menjadi pasien yang ditangani Klinik Puslitang Gizi. Klinik ini melayani pasiennya satu minggu satu kali yakni setiap Selasa pagi hingga selesai.

"Setiap pelayanan, 20 sampai 40 pasien yang harus diperiksa. Sebab, pasien gizi buruk, bahkan ada yang sampai maramus, pengobatan dan perawatannya bisa bulanan bahkan tahunan," kata Simanungkalit.

Jadwal keharusan pasien datang ke kelinik bersama orang tuanya,  bergantung kondisinya. Pasien yang pada bulan-bulan pertama harus menjalani pemeriksaan seminggu sekali, setelah meningkat status gizinya, diminta datang kontrol menjadi sebulan sekali.

"Ada pasien yang status gizi sudah membaik, beberapa bulan kemudian datang kembali, dengan status gizi memburuk lagi. Kalau pasien demikian, tidak dikategorikan pasien baru," jelas Bona Simanungkalit.

Dua pasien baru klinik tersebut adalah Elva dari Ciomas berusia  22 bulan dengan berat badan 6,3 kilogram dan tinggi 71,8 cm, dan Julia Rahayu Saputri dari Katulampa berusia 19 bulan dengan 6,85 kilogram dan tinggi 74 tahun.

Bona Simanungkalit mengatakan, selain di kliniknya, penanganan anak gizi buruk juga dilakukan di beberapa puskesmas di Kabupaten Bogor. "Penanganan gizi buruk kini disebar di beberapa puskesmas, kami tidak tahu statistik pasien gizi buruk  mereka," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau