Terorisme

Al Qaeda Ingin Menguasai Laut Merah

Kompas.com - 10/02/2010, 02:36 WIB

Sanaa, Selasa - Sayap Al Qaeda di Yaman mengajak para pemberontak Somalia untuk berjihad, perang suci, dan bekerja sama menghadang kapal-kapal AS yang akan melewati Laut Merah menuju Israel. Penghadangan harus dilakukan di Selat Bab al Mandab, yakni selat yang menjadi muara Laut Merah menuju Samudra Hindia di Teluk Aden.

Ajakan datang dari wakil pemimpin sayap Al Qaeda, Saeed al-Shehri, lewat rekaman yang dipajang di situs internet, Selasa (9/2). Dia meminta pemberontak Islam al Shabaab Somalia untuk menguasai Selat Bab al Mandab atau Bab el Mandeb (Gerbang Air Mata) guna menghadang semua kapal AS yang berlayar ke Israel melewati Laut Merah.

Selat itu memisahkan Yaman di Semenanjung Arab (Asia) dengan Djibouti di utara Somalia (Afrika), serta menghubungkan Laut Merah dengan Samudra Hindia di Teluk Aden, Tanduk Afrika. Shehri mengajak kelompok Shabaab merebut Selat Bab al Mandab kembali ke tangan penduduk di negeri-negeri Islam (lands of Islam).

Menurut Shehri, selat sempit dan dangkal itu sering menjadi jalur pengiriman kapal-kapal AS ke Israel. Sayap Al Qaeda di Yaman ingin menguasai selat itu sekaligus muara Laut Merah. Shebaab di Somalia diajak untuk bersama-sama melakukan jihad demi mengembalikan jalur tersebut ke tangan pejuang Islam.

”Jalur maritim Bal al Mandab sangat penting, dan kemenangan besar mungkin segera terwujud,” kata Shehri.

Mengebom pesawat

Pada kesempatan itu, dia mengaku kelompoknya bertanggung jawab atas rencana pengeboman Delta Air rute Amsterdam-Detroit, tetapi gagal dieksekusi pada Hari Natal, 25 Desember 2009. Serangan gagal itu merupakan bagian dari rencana besar Al Qaeda untuk menghancurkan AS dan sekutunya.

Shehri mengatakan, rencana mengebom pesawat Delta Air disusun atas perintah Osama bin Laden. Dia menyebut Umar Farouk Abdulmutallab sebagai pahlawan, dan memperingatkan Presiden AS Barack Obama akan ada serangan berikutnya terhadap AS. Dia mengecam Mesir dan Arab Saudi karena melindungi kepentingan Yahudi dan Barat.

Beberapa tokoh pemberontak Somalia diduga kuat ikut mendanai serangkaian perompakan di jalur pelayaran komersial di Samudra Hindia dan Teluk Aden. Tidak diketahui pasti, apakah Shebaab terlibat langsung dalam aksi itu atau tidak.

Eks Guantanamo

Shehri adalah mantan narapidana Guantanamo asal Arab Saudi dan salah satu dari 30 anggota Al Qaeda yang sempat diklaim Yaman telah tewas. Namun, jaringan kelompok garis keras global itu menyangkal klaim itu.

Pemerintah Yaman, Selasa (9/2), mengatakan, pihaknya tidak takut dengan ancaman Al Qaeda. Petugas keamanan negara akan menyapu bersih kelompok garis keras di seluruh wilayah. Departemen Dalam Negeri Yaman mengatakan, pemerintah tidak akan terintimidasi oleh Al Qaeda.

Tidak ada gencatan senjata dengan kaum teroris ini. ”Aparat keamanan akan terus memerangi setiap pelanggaran hukum dan akan menyerang tempat persembunyian teroris di mana pun berada,” demikian Kementerian Dalam Negeri Yaman.

(AFP/REUTERS/CAL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau