Sri lanka

Fonseka, dari Pahlawan Jadi Tawanan

Kompas.com - 10/02/2010, 07:30 WIB

KOMPAS.com - Jenderal (Purn) Gardihewa Sarath Chandralal Fonseka, lahir 18 Desember 1950, adalah panglima Angkatan Darat Sri Lanka ketika operasi penumpasan Gerakan Pembebasan Macan Tamil Eelam atau LTTE dilakukan. Sebagai panglima AD, dia memainkan peranan kunci mengakhiri perang sipil yang berlangsung 25 tahun itu.

Fonseka adalah putra dari Peter dan Piyawathie Fonseka yang berasal dari Ambalangoda. Dia bersekolah dasar di Madawalalanda Maha Vidyalaya (1955-1957) di Ampara, kemudian berlanjut ke sekolah menengah di Dharmasoka College, Ambalangoda (1958-1965), dan berlanjut ke Ananda College, Colombo (1966-1969).

Sejak kecil dia sudah menunjukkan minat dan kemampuan bidang olahraga. Dia kerap kali bertanding pada kejuaraan renang dan polo air, mewakili sekolah, angkatan darat, bahkan juga negaranya.

Dia bergabung dengan AD Sri Lanka pada 1970, dan menjadi saksi sekaligus pelaku beberapa pertempuran melawan gerilyawan LTTE. Penugasan yang diberikan kepadanya selama berkarier militer sangat beragam, dan dia juga terlibat dalam sejumlah operasi Balawegaya dan Jayasikuru, untuk merebut jalur lalu lintas penting menuju wilayah utara Sri Lanka yang diduduki LTTE.

Batalion yang dipimpinnya, Batalion 6 Resimen Singha, pernah terkepung di Elephant Pass pada 1991, tetapi bisa mengatasi serangan LTTE setelah bertahan beberapa jam dan akhirnya mendapat bantuan penyerangan dari darat dan udara.

Fonseka pernah terluka pada 1993 saat terlibat dalam operasi Yaldewee, tetapi luka itu tak memengaruhinya. Ketika itu dia berpangkat kolonel dan memimpin Brigade 23 AD Sri Lanka di Polonnaruwa.

Saat Benteng Jaffna dikepung LTTE dalam waktu cukup lama, Kolonel Fonseka kemudian memimpin pasukannya dalam operasi Midnight Express untuk menyelamatkan tentara yang terkepung di benteng itu. Saat itu, Gotabaya Rajapaksa yang berpangkal letkol ikut bersamanya dalam operasi itu. Hasil operasi itu menggembirakan, ratusan prajurit diselamatkan dari operasi tersebut.

Jenderal pertama

Karier militer Fonseka terbilang sangat lengkap. Dari memimpin resimen kecil, dia kemudian memimpin sebuah batalion, dan terus meningkat memimpin sebuah brigade. Semua prestasi itu membuat dia diangkat sebagai Kepala Staf Pertahanan, kemudian menjadi Panglima AD Sri Lanka. Bintang jasa yang dianugerahkan kepadanya cukup banyak. Dia adalah perwira tinggi aktif pertama yang berpangkat jenderal bintang empat di lingkungan AD Sri Lanka.

Pada 25 April 2006, Fonseka yang ketika itu berpangkat letnan jenderal lolos dari sebuah serangan bom bunuh diri yang dilakukan seorang ibu hamil pengikut LTTE.

Pelaku masuk ke markas besar AD di Colombo untuk mengikuti pemeriksaan rutin ibu-ibu hamil, salah satu pelayanan AD Sri Lanka untuk warga sipil. Akan tetapi, sebelum ibu itu diperiksa, dia melihat kendaraan yang ditumpangi Fonseka, dan kemudian melakukan bom bunuh diri.

Fonseka terluka serius ketika itu dan langsung dilarikan ke rumah sakit umum Colombo, dan kemudian diterbangkan ke Singapura untuk mendapatkan perawatan. Setelah mengalami perawatan cukup lama, Fonseka kembali bertugas pada Juli 2006.

Pengalaman panjang dalam sejumlah pertempuran melawan gerilyawan LTTE menjadi bekal Fonseka ketika pemerintahan Presiden Mahinda Rajapaksa akhirnya memutuskan untuk melakukan operasi penumpasan LTTE. Dengan didukung Angkatan Laut dan Angkatan Udara Sri Lanka, Fonseka dan pasukan Angkatan Daratnya akhirnya bisa menguasai semua wilayah yang sebelumnya diduduki LTTE, dan menewaskan para pemimpin Harimau Tamil itu, termasuk Velupillai Prabhakaran.

Jenderal yang berjasa besar mengakhiri perang sipil Sri Lanka itu meminta pensiun pada 12 November 2009 setelah posisinya sebagai panglima AD diganti dan dia dipromosikan ke Departemen Pertahanan. Dia pun memulai karier baru di bidang politik, dengan mengangkat bendera oposisi. Keputusan itu membuat Fonseka kemudian harus berseberangan dengan Presiden Mahinda Rajapaksa karena sama-sama mengincar pos kepresidenan Sri Lanka.

Rajapaksa menang, dan kemudian menangkap Fonseka dengan tuduhan merencanakan penggulingan pemerintahan Rajapaksa. (Rakaryan S)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau