KOMPAS.com - Jenderal (Purn) Gardihewa Sarath Chandralal Fonseka, lahir 18 Desember 1950, adalah panglima Angkatan Darat Sri Lanka ketika operasi penumpasan Gerakan Pembebasan Macan Tamil Eelam atau LTTE dilakukan. Sebagai panglima AD, dia memainkan peranan kunci mengakhiri perang sipil yang berlangsung 25 tahun itu. Fonseka adalah putra dari Peter dan Piyawathie Fonseka yang berasal dari Ambalangoda. Dia bersekolah dasar di Madawalalanda Maha Vidyalaya (1955-1957) di Ampara, kemudian berlanjut ke sekolah menengah di Dharmasoka College, Ambalangoda (1958-1965), dan berlanjut ke Ananda College, Colombo (1966-1969). Sejak kecil dia sudah menunjukkan minat dan kemampuan bidang olahraga. Dia kerap kali bertanding pada kejuaraan renang dan polo air, mewakili sekolah, angkatan darat, bahkan juga negaranya. Dia bergabung dengan AD Sri Lanka pada 1970, dan menjadi saksi sekaligus pelaku beberapa pertempuran melawan gerilyawan LTTE. Penugasan yang diberikan kepadanya selama berkarier militer sangat beragam, dan dia juga terlibat dalam sejumlah operasi Balawegaya dan Jayasikuru, untuk merebut jalur lalu lintas penting menuju wilayah utara Sri Lanka yang diduduki LTTE. Batalion yang dipimpinnya, Batalion 6 Resimen Singha, pernah terkepung di Elephant Pass pada 1991, tetapi bisa mengatasi serangan LTTE setelah bertahan beberapa jam dan akhirnya mendapat bantuan penyerangan dari darat dan udara. Fonseka pernah terluka pada 1993 saat terlibat dalam operasi Yaldewee, tetapi luka itu tak memengaruhinya. Ketika itu dia berpangkat kolonel dan memimpin Brigade 23 AD Sri Lanka di Polonnaruwa. Saat Benteng Jaffna dikepung LTTE dalam waktu cukup lama, Kolonel Fonseka kemudian memimpin pasukannya dalam operasi Midnight Express untuk menyelamatkan tentara yang terkepung di benteng itu. Saat itu, Gotabaya Rajapaksa yang berpangkal letkol ikut bersamanya dalam operasi itu. Hasil operasi itu menggembirakan, ratusan prajurit diselamatkan dari operasi tersebut. Karier militer Fonseka terbilang sangat lengkap. Dari memimpin resimen kecil, dia kemudian memimpin sebuah batalion, dan terus meningkat memimpin sebuah brigade. Semua prestasi itu membuat dia diangkat sebagai Kepala Staf Pertahanan, kemudian menjadi Panglima AD Sri Lanka. Bintang jasa yang dianugerahkan kepadanya cukup banyak. Dia adalah perwira tinggi aktif pertama yang berpangkat jenderal bintang empat di lingkungan AD Sri Lanka. Pada 25 April 2006, Fonseka yang ketika itu berpangkat letnan jenderal lolos dari sebuah serangan bom bunuh diri yang dilakukan seorang ibu hamil pengikut LTTE. Pelaku masuk ke markas besar AD di Colombo untuk mengikuti pemeriksaan rutin ibu-ibu hamil, salah satu pelayanan AD Sri Lanka untuk warga sipil. Akan tetapi, sebelum ibu itu diperiksa, dia melihat kendaraan yang ditumpangi Fonseka, dan kemudian melakukan bom bunuh diri. Fonseka terluka serius ketika itu dan langsung dilarikan ke rumah sakit umum Colombo, dan kemudian diterbangkan ke Singapura untuk mendapatkan perawatan. Setelah mengalami perawatan cukup lama, Fonseka kembali bertugas pada Juli 2006. Pengalaman panjang dalam sejumlah pertempuran melawan gerilyawan LTTE menjadi bekal Fonseka ketika pemerintahan Presiden Mahinda Rajapaksa akhirnya memutuskan untuk melakukan operasi penumpasan LTTE. Dengan didukung Angkatan Laut dan Angkatan Udara Sri Lanka, Fonseka dan pasukan Angkatan Daratnya akhirnya bisa menguasai semua wilayah yang sebelumnya diduduki LTTE, dan menewaskan para pemimpin Harimau Tamil itu, termasuk Velupillai Prabhakaran. Jenderal yang berjasa besar mengakhiri perang sipil Sri Lanka itu meminta pensiun pada 12 November 2009 setelah posisinya sebagai panglima AD diganti dan dia dipromosikan ke Departemen Pertahanan. Dia pun memulai karier baru di bidang politik, dengan mengangkat bendera oposisi. Keputusan itu membuat Fonseka kemudian harus berseberangan dengan Presiden Mahinda Rajapaksa karena sama-sama mengincar pos kepresidenan Sri Lanka. Rajapaksa menang, dan kemudian menangkap Fonseka dengan tuduhan merencanakan penggulingan pemerintahan Rajapaksa.