Golkar Tak Akan Mundur

Kompas.com - 11/02/2010, 07:30 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie menegaskan, Partai Golkar konsisten mengusut kasus Bank Century. Golkar tak akan mundur dan mengubah sikap meski ada ancaman.

”Saya tidak pernah bisa mengancam, tapi jangan coba ancam saya,” kata Aburizal sesaat sebelum memulai pertemuan dengan kader Golkar di Gedung MPR/ DPR/DPD, Rabu (10/2/2010) di Jakarta.

Pernyataan itu untuk menjawab pertanyaan wartawan tentang adanya sejumlah wacana seputar kasus Bank Century. Wacana itu, misalnya, tentang isu perombakan kabinet sebagaimana disampaikan Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Amir Syamsuddin karena ada mitra koalisi yang dinilainya tidak mau sejalan dalam kasus Bank Century.

Dalam pandangan awalnya pada Senin lalu, Golkar mengatakan ada sejumlah penyimpangan dalam kasus Bank Century. Penyimpangan terjadi dalam proses merger dan akuisisi Bank Century pada tahun 2001-2004, pemberian fasilitas pendanaan jangka pendek pada November 2008 sebesar Rp 689 miliar, dan pemberian dana talangan kepada bank itu pada November 2008-Juli 2009 senilai Rp 6,7 triliun. Pandangan Golkar itu sama dengan pandangan Fraksi PDI-P, PKS, PAN, PPP, Gerindra, dan Hanura.

Pada hari yang sama ketika Golkar menyampaikan pandangan awalnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memerintahkan polisi menegakkan hukum terhadap segala bentuk kejahatan, termasuk kejahatan pajak. Pernyataan yang diberikan saat membuka Rapat Pimpinan Polri 2010 itu diduga juga diarahkan ke sejumlah perusahaan milik Aburizal.

”Kasus pajak tak ada hubungannya dengan Partai Golkar. Jangankan ancaman pajak, diancam tembak mati pun Golkar tidak gentar,” kata Aburizal. Namun, menurut pengamat politik dari Universitas Diponegoro, Semarang, Susilo Utomo, meski tak relevan, kasus pajak yang dikaitkan dengan Aburizal merupakan bentuk ancaman.

Dirjen Pajak Muhammad Tjiptardjo di sela-sela Rapat Pimpinan Polri, Selasa, mengatakan, kasus pajak yang salah satunya menimpa perusahaan Grup Bakrie telah sampai pada tahap penyidikan. Namun, Tjiptardjo menegaskan tidak merasa ada intervensi atau tekanan dalam menangani masalah tunggakan pajak itu. Terkait itu, Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Edward Aritonang mengatakan, Polri memberikan dukungan kepada Ditjen Pajak.

Posisi sama

Aburizal juga menegaskan, Golkar berkoalisi dengan Presiden Yudhoyono. Partai Demokrat juga koalisi dengan Presiden Yudhoyono. Maka, posisi Partai Golkar dan Partai Demokrat dalam koalisi adalah sama. Dengan demikian, Demokrat tidak bisa memberi penilaian atas menteri-menteri dari Golkar.

Golkar juga siap menerima apa pun keputusan Presiden terkait perombakan kabinet. ”Saya kira semua kader Golkar juga akan siap untuk menerima keputusan Presiden,” katanya.

Pernyataan itu diperkuat Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono serta Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad. Keduanya mengatakan, perombakan kabinet merupakan hak Presiden.

Wakil Ketua DPR dari Partai Golkar Priyo Budi Santoso menambahkan, Golkar tidak akan menghapus sejumlah temuan dalam kasus Bank Century. Menurut Priyo, Aburizal masih rutin berkomunikasi dengan Yudhoyono. Mereka juga masih sepakat melanjutkan koalisi hingga 2014. ”Namun, kami siap jika Presiden merasa perlu menarik (menteri dari Golkar),” katanya.

Namun, Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha mengatakan, pelaksanaan program 100 hari pemerintah sejauh ini berjalan baik. Oleh sebab itu, tidak ada evaluasi dari Presiden Yudhoyono untuk melakukan pergantian kabinet. Mengenai rapat internal yang pada Rabu sore dipimpin Presiden Yudhoyono, Julian membantah rapat itu membahas persoalan reshuffle.

Benny K Harman, anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat, menuturkan, yang disampaikan partainya tentang perombakan kabinet dimaksudkan untuk mengingatkan kohesitas pendukung koalisi Presiden Yudhoyono. ”Golkar partner Demokrat di koalisi. Presiden Yudhoyono identik dengan Demokrat, dan Demokrat punya kursi paling banyak di DPR,” tutur Benny.

Baik Susilo Utomo maupun pakar komunikasi politik Universitas Tarumanagara, Jakarta, Eko Harry Susanto, menilai, koalisi parpol yang dibangun Yudhoyono sudah rapuh sejak awal. Susilo Utomo mengatakan, koalisi parpol itu bukan koalisi lazim karena tidak dibangun berdasarkan kedekatan ideologis dan platform politik, tetapi berdasarkan hitungan peta kekuatan di parlemen yang dikaitkan dengan bagi-bagi kursi pemerintahan.

J Kristiadi, peneliti senior Centre for Strategic and International Studies, mengatakan, Partai Golkar merupakan ”lawan” terberat Demokrat. Untuk mengalahkan Partai Golkar, Presiden Yudhoyono harus bertindak tegas. ”Yang dibutuhkan Yudhoyono adalah berbicara dengan setiap partai koalisi tentang kasus ini, dan selanjutnya bicara secara terbuka kepada masyarakat,” kata Kristiadi. (SF/DAY/HAR/NWO)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau