Wisata Batik yang Paling Menghebohkan....

Kompas.com - 11/02/2010, 08:31 WIB

Oleh: J Osdar

KOMPAS.com — Enam gerbong Kereta Api Luar Biasa meninggalkan Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, sekitar pukul 07.10, Selasa (9/2/2010). Sekitar satu jam kemudian, kereta api ini melintasi wilayah persawahan yang sedang menghijau di Jawa Barat.

Warna hijau itu ditimpa sinar kuning lembut matahari pagi, membuat alam Jawa Barat indah sekali ditatap dari dalam gerbong. Mungkin benar yang dikatakan Gubernur Jawa Barat Achmad Heriawan tentang panorama Jawa Barat ini. ”Ketika menciptakan Jawa Barat, Tuhan sedang tersenyum,” ujarnya.

Cirebon dan Jawa Barat, Selasa, tersenyum menyambut kedatangan kereta api yang mengangkut Ny Ani Yudhoyono. Dalam undangan untuk para peserta perjalanan, kereta api ini disebut Kereta Api Luar Biasa. Sekitar 500 anggota rombongan mengenakan busana batik dengan aneka warna dan motif. Di antara rombongan adalah Ny Herawati Boediono, istri Wakil Presiden Boediono.

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik menyebut perjalanan ini sebagai perjalanan wisata paling menghebohkan selama 100 hari pemerintahan baru.

Heboh, kata Jero Wacik, karena kereta api ini membawa enam gerbong. ”Di dalam lima gerbong yang menyertai Ibu Negara, ada banyak istri para duta besar, banyak istri menteri, para pengusaha, dan para istri pengusaha,” ujarnya.

Perjalanan Ny Ani ini, antara lain, untuk bertemu dengan orang-orang yang punya kaitan dengan produksi batik se-Jawa Barat dan mendatangi Desa Trusmi di Cirebon. Di sepanjang jalan utama desa itu berderet-deret toko batik dan sanggar lukis batik. Menurut Jero Wacik, sejak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional pada 2009, Ny Ani berencana mendatangi sentra-sentra batik di Indonesia. Pilihannya untuk kunjungan pertama adalah Cirebon. ”Ini untuk menunjukkan bahwa Cirebon masih ada batik,” ujar Ny Ani.

Jero Wacik mengharapkan para peserta perjalanan ini membeli batik di Cirebon. ”Kalau beliau-beliau ini tidak berbelanja, hanya bicara saja,” kata Jero. Tentu harapan Jero Wacik terpenuhi, sebagian besar dari peserta kunjungan memborong batik di Desa Trusmi.

Peragaan busana

Sebelum kereta api masuk Cirebon, para wartawan diminta masuk ke gerbong utama. Di sini, Ny Ani memperkenalkan busana batik yang dikenakan oleh para istri menteri, istri mantan menteri, dan istri para duta besar negara-negara sahabat Indonesia. ”Nah, batik ini berasal dari Pekalongan walaupun dibeli di Yogyakarta,” ujar Ny Ani memperkenalkan busana batik yang dikenakan seorang istri menteri.

Di Cirebon, siang itu matahari bersinar terik sekali sehingga ketika Ny Ani berpidato harus berkali-kali mengusap wajahnya dengan tangannya karena keringat mengalir. Bukan hanya berpidato, Ny Ani juga berdialog dengan penduduk Jawa Barat yang punya kaitan dengan produksi batik.

Penampilan Ny Ani di Cirebon ini cukup piawai. Selain berdialog dengan orang-orang yang punya kaitan dengan produksi batik, Ny Ani juga berjalan kaki menelusuri jalan utama Desa Trusmi yang padat. Jalan kaki ini mendekatkan sosok Ibu Negara dengan rakyat. Perjalanan ke sentra-sentra batik masih akan berlangsung. Ini perjalanan ke kawasan akar rumput yang menyentuh kebutuhan ekonomi konkret dan citra negeri ini. Batik adalah warisan leluhur yang bisa menjadi lambang gengsi bangsa.

Dalam perjalanan ini, Ny Ani tidak hanya membuat rakyat kecil bergembira, tetapi juga membuat banyak peserta rombongan tersenyum karena diperkenalkan namanya dan diberikan kesempatan untuk bicara dengan rakyat dalam acara resmi di Gedung Negara Cirebon.

Ketika memperkenalkan rombongan dari Jakarta, Ny Ani sempat pula bercanda. ”... Inilah para istri pemilik media. Ada istri pemilik SCTV, Ibu Foto Sariaatmadja, Ibu Chairul Tanjung dari Trans TV, dan Ibu Bambang Hary Tanoesoedibjo dari RCTI. Insya Allah, kantong mereka pasti tebel,” ujar Ny Ani disambut tawa hadirin.

Sebelum kereta masuk kembali ke Jakarta pada malam hari, Ny Ani juga mengumumkan peserta rombongan yang busananya dinilai cukup bagus. Pemenang pertama adalah Ny Popy Hayono Isman (istri mantan Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Hayono Isman), kedua Gouri Miapuri (istri Duta Besar Singapura untuk Indonesia), dan Sranya Marty Natalegawa (istri Menteri Luar Negeri).

KA Luar Biasa tiba di Gambir sekitar pukul 20.30. Suasana di stasiun menjadi meriah oleh suara rombongan yang sebagian besar perempuan. Para ajudan dan pengawal sibuk ke sana kemari mencari istri menteri, istri mantan menteri, dan istri para duta besar. Setelah rombongan meninggalkan Gambir, suasana senyap lagi dan Jakarta mengucapkan selamat malam....

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau