Normalkah Kebiasaan Suami Menonton Porno?

Kompas.com - 11/02/2010, 21:28 WIB

KOMPAS.com - Dibandingkan dengan wanita, pria lebih terbuka soal pornografi. Namun, bila sudah ketagihan, kegemaran tersebut bisa mengganggu keharmonisan rumah tangga. Konsultan seks On Clinic, dr. Bambang Soekamto melihat manfaat pornografi sebagai variasi agar seks tidak monoton. Namun, tentunya pornografi yang dimaksud yang sifatnya manusiawi.

Menurut dr. Bambang Soekamto, pornografi tak akan mengancam keharmonisan rumah tangga kalau komunikasi antara suami dan istri berjalan dengan baik. Masing-masing pihak bisa saling terbuka soal kekurangan dan kelebihan, serta apa yang mereka inginkan dan yang tak diinginkan, termasuk dalam hal seks. Namun, pornografi akan menjadi masalah jika dikonsumsi berlebihan dan dijadikan obsesi, apalagi jika suami sudah mulai membandingkan bintang porno dengan sang istri. Lalu, masih normalkah kegemaran si dia akan hal pornografi itu? Berikut adalah penggolongan sederhana yang bisa Anda jadikan tolok ukur:

Normal
Jika suami masih bisa mengendalikan diri untuk tidak selalu menuruti nafsu birahi saat melihat materi pornografi. Ia terangsang ketika indranya menangkap sesuatu yang erotis, tapi tidak diikuti dengan tindakan negatif.

Ketagihan
Bila pornografi sudah dijadikan alat pembangkit hasrat biologis sang suami. Lalu hasrat tersebut disalurkan lewat cara-cara terbatas, seperti masturbasi atau berhubungan seks dengan Anda. Hati-hati dengan kemungkinan suami Anda keranjingan. Sarankan padanya untuk mengalihkan perhatiannya pada fantasi seks dengan melakukan kegiatan lain dan tanamkan dalam benaknya bahwa Anda adalah satu-satunya wanita yang mengerti hasrat seksualnya.

Kelainan dan Penyimpangan
Kalau pornografi sudah menjadi gaya hidupnya. Pembicaraan dan tingkah lakunya selalu mengarah ke urusan seks. Ia juga melakukan segala cara, termasuk cara yang tidak lazim atau sadis, untuk menuntaskan nafsu birahinya. Sebaliknya, saat suami tidak terangsang sama sekali melihat pornografi, Anda perlu waswas. Artinya, gairah seksualnya tidak normal. Penyebabnya bisa karena pengalaman seks yang menyakitkan atau menderita penyakit tertentu. Jalan keluarnya adalah dengan berkonsultasi ke seksolog, psikolog, atau psikiater.

(Emy Agustia/Majalah Sekar)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau