MUI: Aerobik Jangan Rangsang Hawa Nafsu

Kompas.com - 12/02/2010, 09:15 WIB

PALEMBANG, KOMPAS.com — Setelah heboh dengan wacana fatwa haram untuk rebonding dan foto pre-wedding, kini giliran senam aerobik mendapat sorotan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Kali ini MUI Sumatera Selatan angkat bicara soal senam kebugaran yang banyak melibatkan wanita tersebut.

Ketua MUI Sumatera Selatan KH M Sodikun di Palembang, Jumat (12/2/2010), menekankan agar kegiatan kebugaran itu dilakukan secara sopan. Pakaian yang digunakan pesenam pun harus tidak merangsang hawa nafsu.

Dia mengatakan, selama ini pakaian senam aerobik tidak sesuai dengan budaya Islam sehingga perlu dibenahi. Sementara gerakan senamnya sendiri kerap menimbulkan pikiran negatif. Jadi, senam tersebut harus dilakukan secara sopan sehingga sesuai dengan budaya Indonesia. Jika menimbulkan hal negatif, MUI memandangnya haram dan bertentangan dengan kaidah Islam.

"Senam memang hal yang dianjurkan, terutama untuk menjaga kesehatan, tetapi harus dilakukan sesuai dengan tata krama dan budaya bangsa," tegasnya.

Bahkan, Islam menganjurkan umatnya menjaga kesehatan dengan berolahraga, termasuk senam. "Senam aerobik tidak boleh dilakukan secara transparan, terutama pakaian, karena itu banyak hal negatifnya daripada positifnya," ungkap Sodikun.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau