Ke Glodok Merayakan Imlek

Kompas.com - 13/02/2010, 07:23 WIB

SETIAP kali menjelang Imlek, warga Jakarta memenuhi kawasan Pancoran, Glodok, Jakarta Barat. Kawasan yang disebut pecinan Jakarta itu meriah sejak satu bulan sebelum Imlek. Bahkan, setelah Imlek pun, orang terus datang karena di sanalah segala kebutuhan Imlek ada.

Menjelang Imlek, di Pancoran sangat kental suasana hari besar itu. Banyak orang menjual angpao dengan berbagai macam ukuran dan desain. Ada angpao tiga dimensi dengan bentuk rumah. Ada juga angpao yang berwarna merah jambu karena Imlek 2561 yang jatuh Minggu (14/2) berbarengan dengan Hari Valentine, hari yang banyak dirayakan pasangan dan orang muda.

Selain angpao, pedagang-pedagang menjajakan baju-baju khas Tionghoa berwarna merah menyala. Desainnya lucu dengan harga bervariasi dari puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah.

Banyak juga pedagang dadakan yang menjajakan pakaian dalam. Berdasarkan kepercayaan, setiap kali tahun baru, orang harus memakai baju dan pakaian dalam yang baru agar segala kesusahan dan kesulitan hidup pada tahun yang sebelumnya tidak terbawa pada tahun baru ini.

Pedagang buah turut meramaikan. Mereka menjajakan jeruk, pir, dan buah naga. Sebagian besar jeruk diimpor langsung dari China.

Di Petak Sembilan, salah satu jalan di kawasan itu, juga tidak kalah sibuk. Di tempat itu, komoditas utama adalah sayuran dan bahan segar. Teripang, kodok, belut, dan ikan gabus segar mudah didapat di sepanjang jalan.

Menurut pedagang teripang, Andi, menjelang Imlek, teripang banyak dicari. Walaupun harganya mahal, sekitar Rp 300.000 per kilogram untuk teripang segar, permintaan terus meningkat. ”Selain enak, teripang juga mempunyai khasiat bagi kesehatan,” katanya.

Konsumen juga banyak mencari paohi alias hisit ikan hiu. Harganya spektakuler, Rp 1,2 juta per kaleng ukuran 500 mililiter. Harga paohi untuk membuat sup itu mahal karena diimpor dari Meksiko.

Makanan-makanan itu bukanlah makanan yang harus ada saat Imlek. Semua makanan ini diperlukan untuk pendamping sajian upacara keagamaan.

Menurut Kim San (43), pedagang dendeng bakar Singapura, menjelang Imlek, orang juga memburu dendeng bakar. ”Permintaannya melonjak hingga lima kali lipat ketimbang hari-hari biasa. Dendeng ini bukan makanan utama, hanya membuat sajian lebih beragam,” kata Kim San yang menjual delapan macam dendeng.

Seminggu sebelum Imlek, suasana Imlek makin kental. Rombongan pengamen barongsai pun berkali-kali berkeliling mencari angpao dari pengunjung. Sebenarnya, barongsai yang sesuai dengan adat Tionghoa adalah barongsai ketika Cap Go Meh, yakni 15 hari setelah Imlek. Barongsai saat Cap Go Meh sangat ditunggu warga Tionghoa karena mereka yakin orang yang memberikan rezeki kepada barongsai akan mendapatkan rezeki berlipat dari yang diberikan kepada barongsai.

Di tempat lain

Sebelum Imlek, kawasan Glodok meriah. Namun, ketika Imlek, kawasan itu malah sepi. ”Semua toko tutup. Mereka sembahyang dan berkumpul dengan keluarga,” kata Kim San.

Keramaian justru terjadi di tempat lain, misalnya di Sea World Indonesia, Taman Impian Jaya Ancol, akan ada pertunjukan panggung boneka di dalam air. Pertunjukan ini akan mendapat penghargaan Museum Rekor Dunia Indonesia sebagai pergelaran panggung boneka di dalam akuarium pertama di Indonesia.

Menurut Direktur PT Sea World Indonesia Sonny Wibisono Widjarnako, pertunjukan itu menampilkan cerita Sam Pek Eng Tay. ”Perayaan berbarengan dengan Hari Kasih Sayang, jadi ceritanya tentang kasih sayang,” kata Sonny.

Di Tangerang, Alam Sutra menggelar Chinese New Year Festival di The Flavor Bliss, 4-14 Februari. Hiburan berupa barongsai, liong dance, kesenian khas China, dan bazar.

Senior Corporate Communication Manager PT Alam Sutera Realty Tbk Liza Djohan mengatakan, khusus perayaan Imlek, dirancang berbagai hiburan khas, seperti pertunjukan barongsai, wushu, akrobatik china, dan musik orkestra china.

Perayaan festival Imlek juga ada di ITC Bumi Serpong Damai. Menurut Humas BSD, Halusati Antonius, festival lagu Mandarin untuk anak usia 4-16 tahun berlangsung Sabtu-Minggu. Ada juga peragaan busana khas Imlek untuk anak-anak.

Di Pasar Modern, Sabtu pagi, ada atraksi barongsai dari Singamas. Para pedagang menggantungkan amplop merah di depan toko masing-masing untuk diambil barongsai. (M Clara Wresti dan Pingkan Elita Dundu)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau