Tak Ada Obat untuk Penyakit Jantung

Kompas.com - 13/02/2010, 11:08 WIB

KOMPAS.com — Sakitnya Bill Clinton mendapat banyak simpati dan perhatian dari banyak pihak. Mantan Presiden Amerika Serikat ini kembali menjalani tindakan jantung untuk membuka pembuluh darahnya yang tersumbat setelah sehari sebelumnya (Kamis, 11/2/2010) ia mengalami kesulitan bernapas dan sakit di dadanya.

Sebelumnya pada tahun 2004 Clinton pernah menjalani operasi bedah jantung. Rupanya pembuluh darah Clinton menyempit lagi sehingga kemarin dokter melakukan pemasangan dua stent untuk membuka pembuluh darahnya. Inilah babak baru kehidupan mantan orang nomor satu di AS itu.

Meskipun terapi untuk mengatasi sumbatan koroner yang mengeras terus berkembang, ternyata risiko penyempitan kembali terus ada. Hal ini terbukti pada kasus Clinton. "Banyak pasien yang kembali datang karena penyempitan setelah empat atau lima tahun," kata Dr Cam Patterson, Ketua Kardiologi dari University of North Carolina, AS.

Beruntung teknologi kedokteran telah pesat berkembang, penyempitan kembali pembuluh koroner bukanlah hal yang perlu terlalu dikhawatirkan. "Selama pasien tidak mengalami serangan jantung dan menjalani gaya hidup sehat, mereka tetap bisa berumur panjang," kata Dr William O'Neill, ahli penyakit jantung.

Yang perlu dipahami oleh pasien adalah kejadian mendadak serangan jantung tidak berarti proses penyakit itu datang tiba-tiba. Proses penyempitan pembuluh darah berlangsung bertahun-tahun lamanya.

Faktor genetik dan faktor-faktor risiko penyakit jantung koroner (hipertensi, diabetes, hiperkolesterol, merokok) akan mempercepat terjadinya penyempitan pembuluh darah (aterklerosis). Bila faktor-faktor risiko ini tidak dikendalikan, dampak serius penyakit ini akan dirasa. Itu sebabnya, perubahan gaya hidup  mutlak dilakukan.

Clinton ternyata memiliki riwayat penyakit jantung dari garis ibunya. Ia juga mengakui kurang perhatian pada pola makannya, memiliki darah tinggi, dan sebelum dilakukannya operasi ia tidak lagi mengonsumsi obat penurun kolesterol yang diresepkan dokter.

Para pakar kesehatan mengatakan, penyakit jantung adalah kondisi kronis yang tidak ada obatnya. Tindakan medis yang dilakukan oleh dokter hanya bertujuan untuk mengurangi rasa sakit dan mencegah perburukan yang bisa menyebabkan kematian.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau