Oleh Cornelius Helmy
"Tahun lalu tercatat sebagai pertunjukan paling luar biasa. Ketika tampil di salah satu mal di Bandung, sekitar 10.000 orang diklaim menonton aksi kami. Bahkan, katanya delapan orang pingsan berdesakan dan 18 anak kecil hilang," ujar Manajer Kelompok Barongsai Long Qing Ibrahim Sopanji atau biasa dipanggil Panji.
Panji yakin, fenomena itu bukti barongsai bukan hanya milik etnis Tionghoa. Masyarakat umum juga merasa memiliki dan terhibur dengan pertunjukan barongsai tonggak, barongsai lantai, hingga naga panjang. "Mayoritas penonton barongsai juga bukan etnis Tionghoa. Saya yakin barongsai sudah menjadi bagian dan milik Indonesia," kata Panji.
Ia mengatakan, ini jauh berbeda dibandingkan dengan masa ketika barongsai menjadi kesenian terlarang. Bahkan, sekadar berlatih saja, ia dan teman-temannya harus sembunyi-sembunyi. Pemerintah saat itu melarang penampilan barongsai karena dianggap budaya asing yang tidak mendidik.
"Tarian barongsai rahasia itu pertama kali kami pentaskan di Cimahi dalam rangka Imlek sebelum tahun 1998. Penontonnya mayoritas etnis Tionghoa yang kangen barongsai," kata Panji.
Banjir permintaan
Era itu berakhir sekitar tahun 1998. Sejak kekangan barongsai dibebaskan, permintaan tampil membanjir. Saat-saat laris adalah jika sudah memasuki Tahun Baru China atau Imlek hingga Cap Go Meh.
Tahun ini, misalnya, antara 22 Januari dan 21 Februari, Kelompok Barongsai Long Qing akan dan sudah berpentas di 25 tempat, baik di hotel bintang lima, pusat perbelanjaan, maupun sekolah menengah atas. Tarifnya pun beragam tergantung permintaan.
Tarif pementasan barongsai Rp 8 juta per pertunjukan. Tampilannya seperti barongsai tonggak, barongsai duduk, naga panjang atau liong, wushu, tarian, dan musik tradisional China. Total personel yang dilibatkan sekitar 40 orang. Pementasan kecil dihargai Rp 3 juta. Penonton hanya dihibur atraksi sepasang barongsai duduk.
Banjir permintaan tampil juga dialami Kelompok Barongsai Naga Merah. Pendiri Naga Merah Aizan Tan berkisah, pada 7-28 Februari pihaknya mementaskan 25 pertunjukan di mal hingga kantor instansi swasta. Tarif disesuaikan dengan besar dan kecilnya pertunjukan. Tarif pertunjukan besar Rp 11 juta per tiga hari dengan durasi 2-3 jam, sedangkan tarif skala kecil Rp 3 juta-Rp 3,5 juta per hari dengan durasi sama.
Selain barongsai, kelompok musik tradisional China juga mendapat berkah Imlek. Salah satunya, Harmony Chinese Music Group pimpinan Andry Harmony yang mendapatkan permintaan tampil lebih dari 20 kali selama Februari ini.
Andry mengatakan, sama seperti barongsai, penikmat musik tradisional China pun tak hanya dari etnis Tionghoa. Alasannya, jenis dan bunyi alat musiknya tak jauh beda dengan alat musik etnis lain, di antaranya, liu qin (sejenis ukulele), dizi (sejenis suling), ruan (sejenis gitar melodi), guzheng (sejenis kecapi), dan daruan (sejenis gitar bas).
"Penikmat bukan etnis Tionghoa tidak aneh karena merasa akrab dengan suara yang dikeluarkan alat musik tradisional China ini," kata Andry.
Untuk Indonesia
Meskipun kesenian itu berakar dari China, baik Panji, Aizan, maupun Andry mengatakan, apa yang mereka tampilkan adalah untuk Indonesia. Sejak awal mereka berharap kesenian ini menjadi milik Indonesia melalui proses akulturasi.
Salah satu akulturasi yang mudah terlihat adalah asal para personel. Panji menambahkan, semua personel Long Qing bukan etnis Tionghoa, melainkan ada yang etnis Sunda dan etnis lain. Hanya Ketua Dewan Pembina Tan Siau Gie yang berdarah Tionghoa. Hal sama terjadi di Naga Merah.
"Saya bahkan coba memadukan unsur barongsai dengan hiburan masyarakat Jawa Barat. Hasilnya seperti barongsai bodor, jajangkungan, hingga perkusi naga," kata Azian.
Musisi tradisional China, menurut Andry, merupakan percampuran beragam etnis, di antaranya dengan Sunda. Selain itu, kolaborasi karya dengan kesenian dan kelompok musik lain juga sering dilakukan.
"Kami pernah tampil dalam Festival Keroncong Internasional 2008 di Solo membawakan lagu bertema Jabar, 'Bandung Selatan di Waktu Malam'. Tanggapan penonton sangat positif karena musik tradisional China ini bisa memperkaya khazanah musik di Indonesia," tutur Andry.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang