Ada Lelang Mutiara di Lombok, Mau?

Kompas.com - 15/02/2010, 13:16 WIB

MATARAM, KOMPAS.com — Pasar lelang mutiara bertaraf internasional akan berlangsung di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, Juli mendatang. Diharapkan, pasar lelang ini bisa memacu samangat pengusaha mutiara di daerah.

"Salah satu sisi positif pasar lelang mutiara internasional tahun 2010 itu adalah memotivasi dan memacu semangat pengusaha mutiara," kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB HM Ali Syahdan di Mataram, Senin (15/2/2010). 

Ia mengatakan, sejumlah pengusaha mutiara di wilayah NTB juga terkena dampak krisis finansial global yang mencuat pada Oktober 2008 sehingga ada yang mengurangi volume usahanya dan menunda aktivitas ekspor. "Sedikitnya tiga perusahaan besar yang mengelola komoditas mutiara di wilayah NTB menutup sementara usaha tersebut," katanya.

Ketiga perusahaan itu adalah PT Bima Sakti Mutiara di Sape Bima, Auto River di Lombok Barat, dan PT Budidaya Mutiaratama (Kyoko Sinkyo Group) di Sekotong, Lombok Barat.

"Sejumlah perusahaan mutiara di NTB bahkan terpaksa menempuh kebijakan rasionalisasi karyawan," katanya. 

Provinsi NTB berpotensi menghasilkan mutiara dalam jumlah besar dan berkualitas, yakni 600 kg per tahun, dengan kualitas baik, sehingga mampu menembus pasar internasional. PT Budidaya Mutiaratama, yang merupakan bagian dari Kyoko Group, misalnya, pernah memproduksi 208,068 kg per tahun dengan nilai ekspor sebesar 1.331.514 dollar AS atau setara dengan Rp 12,65 miliar.

Hasil penelitian Kementerian Kelautan dan Perikanan menyebutkan, mutiara produk NTB diklasifikasikan dalam golongan A (kualitas tinggi), B (sedang), dan C (rendah). Klasifikasi A memiliki nilai jual Rp1 juta per gram, B Rp 150.000 per gram, dan  C Rp 100.000 per gram. 

"Ketika terkena dampak krisis finansial global, harga mutiara NTB rata-rata hanya Rp 35.000 per gram, paling mahal Rp 350.000 per gram, berbeda dengan harga sebelum krisis global itu yang bisa mencapai jutaan rupiah setiap gram," ujarnya.

Syahdan menambahkan, sejumlah pengusaha mutiara NTB sempat tidak percaya anjloknya harga mutiara sejak terjadi krisis global finansial sehingga mencoba mendistribusikannya langsung ke sejumlah negara.

Ternyata para pengusaha itu melihat sendiri dan mengetahui bahwa mutiara produk NTB kurang mendapat perhatian sehingga harganya pun anjlok. "Karena itu, banyak pengusaha mutiara NTB yang cenderung menunggu krisis finansial global NTB berlalu, yang diperkirakan dalam dua tahun ke depan," katanya.

Data Dinas Perindustrian dan Perdagangan NTB menyebutkan, jumlah perajin mutiara di wilayah NTB lebih dari 2.000 orang, terbanyak di Pulau Lombok.  

NTB merupakan daerah potensial pengembangan mutiara dengan daya dukung lahan 19.056 hektar yang dapat memproduksi rata-rata 600 kg per tahun. Sekitar 10-30 persen dari total produksi mutiara NTB setiap tahun diantarpulaukan ke Surabaya dan Jakarta untuk selanjutnya diekspor ke berbagai negara oleh 38 pengusaha mutiara.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau