Penjualan MPV Premium Bisa Melonjak Nyaris Tiga Kali Lipat

Kompas.com - 15/02/2010, 13:29 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Para ATPM yang bermain di kategori multi purpose vehicle premium atau MPV premium yakin bahwa penjualan tahun ini naik. Kenaikannya tidak kepalang tanggung, nyaris tiga kali lipat atau 161 persen. Jadi, kalau 2009 adalah 544 unit, maka pada Tahun Macan ini total market MPV premium bisa mencapai 1.420  unit.

Menurut analisis Chief Operating Officer (COO) PT Astra International Tbk-Auto2000 Jodjana Djody, beberapa faktor eksternal bisa mendorong terjadinya lonjakan penjualan. Di antaranya, rencana kenaikan batas atas pajak penjualan barang mewah (PPnBM) dari 75 persen menjadi 200 persen yang bisa memicu kenaikan harga.

"Mayoritas MPV premium masih CBU (impor) sehingga komponen pajak berpengaruh besar terhadap harga. Jadi, kalau terjadi lonjakan penjualan tahun ini, hal itu menjadi aksi spekulasi konsumen karena faktor kenaikan pajak," ujar Jody kepada Kompas.com, Senin (15/2/2010).

Secara terpisah, Wakil Presiden Direktur PT Hyundai Mobil Indonesia atau HMI,  Erwin Djajadiputra, menegaskan bahwa secara umum total MPV di semua level akan menguat 3,5 persen atau 232.870 unit dari periode yang sama tahun lalu, 224.733 unit. Lonjakan terbesar akan berasal dari segmen premium (161 persen) disusul level medium dan low masing-masing 5,3 persen. Adapun kelas high sebesar 0,5 persen. Namun, dari pangsa pasar, low MPV (Avanza, Xenia, Gran Max, dan APV) menyedot porsi terbesar dengan persentase melebihi 85 persen.

Perihal kenaikan MPV premium, Erwin melihat dari sudut pandang lain. "Tahun ini akan banyak produk baru yang bermunculan. Penjualan pasti akan melonjak signifikan, meski dari jumlah unit tak seberapa besar," papar Erwin di Jakarta, akhir pekan lalu.

Hingga kini, Erwin mengatakan bahwa pasar MPV premium masih dinikmati oleh importir umum yang memasok produk CBU dari negara prinsipal. Praktis, baru ada Hyundai H1 dan Toyota Alphard yang resmi diboyong masuk melalui ATPM masing-masing.

Selain Hyundai H1 dan Toyota Alphard, masih ada Nissan Serena yang kini pasarnya sedang menanjak. Memang, ketiga MPV ini tergolong paling mewah di merek masing-masing—dari soal harga dan bentuk yang berbeda—yang dipasarkan di Indonesia. Meski Nissan masih punya Elgrand, produk itu hanya dijual oleh importir umum. 

"(Nissan) Serena kami perkirakan akan mengalami lonjakan penjualan tahun ini, dari 2.116 unit  tahun lalu menjadi 2.500 unit tahun ini. Biar bagaimanapun, MPV masih menjadi primadona pada pasar otomotif nasional Indonesia," ujar Takayuki Kimura, Presiden Direktur NMI.

Mengacu data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), pangsa pasar MPV terhadap total pasar pada 2009 tercatat sebesar 62,3 persen. Di posisi kedua, segmen hatchback atau city car merebut 10,44 persen, sport utility vehicle (SUV) sebesar 16,64 persen, dan di buritan adalah sedan dengan raihan 5 persen.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau