Plesiran ke Little Nederland, Semarang

Kompas.com - 15/02/2010, 14:20 WIB

KOMPAS.COM - Libur panjang di akhir pekan masih dua pekan lagi, saat itu bertepatan pula dengan perayaan Cap Go Meh. Barangkali Semarang bisa jadi alternatif tujuan wisata, termasuk wisata ke Pecinan, tentunya. Semarang, Little Holland, atau Little Nederland, punya banyak daya tarik. Kota lama beserta bangunan bersejarah, Pecinan, dan kuliner legendaris bagaikan magnet yang sulit ditolak.

Arsitektur bangunan di kawasan Kota Lama Semarang beragam. Ada Gereja Blenduk (Nederlandsch Indische Kerk) bikinan 1750 dengan atap kubah yang dipugar pada 1894. Di hadapan gereja ini berdiri gedung karya Thomas Karsten di tahun 1916 yang kini menjadi gedung Asuransi Jiwasraya. Tak lupa bangunan Stasiun Tawang yang mencoba tetep bertahan dari terjangan rob. Tambahan lagi, Pasar Semawis yang menghidupkan Pecinan.

 Liem Thian Joe, dalam Riwayat Semarang, menyebutkan, kehidupan di Pecinan Lor yang kini bernama Gang Warung, di masa silam adalah pusat perhubungan. Ke sebelah barat bisa berhubungan dengan kampung pribumi yang sekarang jadi Kampung Kranggan dan Pasar Semarang (kini Pasar Damaran). Sementara ke arah utara melintasi kali berhubungan dengan apa yang kini dikenal sebagai Petudungan, Pandean, Jerukkingkit, Ambengan, dll. 

Dalam buku itu ia juga mengisahkan asal usul Pasar Johar. Di tahun 1860, pasar ini merupakan bagian dari alun-alun, di bagian tepi sebelah timur yang berbatasan dengan jalan, tumbuh pohon johar atau mahoni. Pohon itu bikin teduh, sehingga banyak orang senang berteduh di sana. Lama-lama-pasar-pasar kecil pun tumbuh di bawah pohon ini. Pasar kecil ini pun berkembang dan membesar. Pada 1865 bagian alun-alun ini telah jadi pasar dengan pohon johar yang jug masih berdiri. Maka jadilah nama pasar itu, Pasar Johar. Pembesar kota kemudian membangun los dan pohon johar pun ditebang. Tapi tetap saja nama pasar itu, Pasar Johar.

Seperti juga Gereja Blenduk, Pasar Johan adalah kreasi Thomas Karsten. Karsten tak berhenti sampai di Pasar Johar. Karya lain, sebut saja Lawang Sewu, gedung yang kini jadi kantor Asuransi Jiwasraya, dan Perkampungan Mlaten. 

Pada literatur lain disebutkan, struktur Little Nederland selesai dibangun pada tahun 1741 dan merupakan kawasan untuk orang Belanda. Di sini pernah ada perkantoran, hotel, perumahan, dan bangunan perdagangan lainnya dengan ikon Gereja Blenduk.

Semarang Tempo Dulu: Teori Desain Kawasan Bersejarah yang ditulis Wijanarko menyebutkan juga, Kampung Kauman, Pecinan, Kampung Melayu, dan Little Nederland mengelilingi apa yang dinamakan kota lama Semarang. Yang layak disebut Kota Lama Semarang harusnya adalah Kanjengan. Namun kompleks Kanjengan serta alun-alunnya sudah tak ada, hanya tersisa Masjid Agung Kauman. Sementara apa yang disebut Little Nederland adalah kawasan di sekitar Gereja Blenduk dengan berbagai gaya bangunan.

Semarang memang sangat menarik untuk ditelusuri. Selain urusan mata, yaitu terkait sejarah kota dan bangunan bersejarah, maka urusan perut juga tak boleh terlewatkan. Pasar Semawis di Pecinan layak dikunjungi. Deretan warung kaki lima yang pastinya bikin lupa diri siap unjuk rasa.

Belum lagi resto legendaris, Toko Oen, yang juga layak disambangi. Meskipun Toko Oen berawal di Yogyakarta pada 1922, namun kemudian si empunya toko, Liem Gien Nio memutuskan Semarang sebagai cabang pertama di tahun 1936. Toko Oen tak hanya jadi cabang pertama tapi juga jadi resto pertama di Semarang. Penganan ala Eropa hingga sekarang masih dipertahankan, antara lain es krim.

 Dalam rangka mengenal Semarang dan Cap Go Meh, Komunitas Sahabat Museum menggelar Plesiran Tempo Doeloe ke Little Nederland pada 26-28 Februari. Biaya Rp 1,5 juta/orang antara lain untuk transportasi menggunakan kereta api; menginap di hotel tua; dan naik loko uap di Ambarawa sekaligus Museum Ambarawa.

"Kita akan ditemani Pak Prianto, ahli sejarah dari Universitas Diponegoro. Kita juga akan lihat stasiun pertama di Semarang, dipandu Pak Tjahjono. Pastinya enggak ketinggalan ke Pecinan, kelenteng, dan ngerasain kuliner legendaris Semarang," kata Ketua Komunitas Sahabat Museum Adep Purnama.

Ia juga mengatakan, peserta akan diberi tempat di hotel bersejarah, Hotel Bellevue. Hotel bergaya art deco ini dibangun pada 1919 dimiliki oleh Van Demen Wars. Kemudian sejak 1961  nama hotel berubah jadi Hotel Candi Baru. Untuk mendaftar atau mengetahui informasi lebih detil, ia bisa dihubungi di adep@cbn.net.id.

 

 
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau