Percepatan Produksi Blok Cepu Jadi PR Wapres

Kompas.com - 15/02/2010, 18:29 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Presiden Boediono menyatakan, percepatan produksi secara penuh untuk Blok Cepu sampai 20.000 barrel per hari adalah pekerjaan rumah atau PR yang harus dipenuhi oleh dirinya kepada Pemprov Jawa Tengah.

Oleh sebab itu, Wapres mempersiapkan langkah untuk mempercepat secara penuh produksi Blok Cepu tersebut sampai 20.000 barrel per hari. Namun, Juru Bicara Wapres, yang juga Staf Khusus Bidang Media Massa, Yopie Hidayat, saat ditanya pers, seusai rapat internal di Istana Wapres, Jakarta, Senin (15/2/2010) sore, belum mau mengungkapkan langkah apa yang akan dilakukan.

"Langkahnya masih akan dibicarakan dalam rapat lanjutan, satu atau dua hari ini, atau minggu depan," ujar Yopie.

Menurut Yopie, rapat pendahuluan untuk mempersiapkan langkah terebut sudah dimulai Senin ini di Istana Wakil Presiden, Jakarta. Rapat dipimpin oleh Wapres Boediono yang membahas pasokan gas alam untuk ketersediaan industri keramik dan pembangkit PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Selain Ketua Unit Kerja Presiden untuk Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) Kuntoro Mangkusubroto, hadir pula Direktur Utama PT Pertamina Karen Agustiawan.

Yopie mengatakan rapat pendahuluan dilakukan Wapres untuk mengecek produktivitas blok yang dikelola oleh PT ExxonMobile Indonesia. Saat kunjungan kerja ke Semarang, Wapres mendapat keluhan dari Gubernur Jateng Bibit Waluyo dan Bupati Blora Budi Sancoyo bahwa produksi Blok Cepu belum juga mencapai produksi penuh sebesar 20.000 barrel per hari. "Padahal, diharapkan Exxon sudah bisa mencapai produksi penuh dan diharapkan bisa memberikan bagi hasil," jelas Yopie.

Dikatakan Yopie, Dirut Pertamina memang mengungkapkan sejumlah masalah dengan belum tercapainya produksi penuh Blok Cepu. "Namun, itu teknis dan masih akan ditindaklanjuti lagi dalam rapat lanjutan," kilah Yopie. Salah satu masalah yang dihadapi Exxon, tambah Yopie adalah masalah koordinasi di daerah.

Kuntoro yang ditanya pers juga tidak mau mengungkapkan lebih jelas lagi hasil rapat. "Ya, kita memang membahas Blok Cepu, akan tetapi akan dilanjutkan lagi dalam rapat berikutnya," tandas Kuntoro.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau