Agun: Presiden Enggak "Ngerti" Pajak

Kompas.com - 16/02/2010, 15:31 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Anggota Pansus Hak Angket Kasus Bank Century Agun Gunanjar mengatakan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak mengerti soal pajak. Hal ini disampaikannya menyusul adanya instruksi Presiden kepada polisi agar menindak para pengemplang pajak.

Menjelang pembacaan rekomendasi akhir Pansus, beberapa kasus mencuat kembali, mulai dari soal pajak Bakrie, kasus beras yang melibatkan Ketua Fraksi Golkar Setya Novanto, hingga simpanan politikus PDI-P Emir Moeis di Bank Century.

Menurut Agun dari Fraksi Partai Golkar, ada tahapan yang dapat ditempuh jika seseorang tidak mampu membayar pajak. Orang pajak pun, lanjutnya, tidak bisa serta-merta melaporkan orang yang tidak mampu membayar pajak ke polisi. "Jadi, Presiden enggak ngerti pajak, Pak?" celetuk seorang wartawan media nasional. "Iya, tidak ngerti soal pajak. Tulis itu," ujar Agun dengan nada meninggi.

Agun menegaskan, berbagai kasus yang dimunculkan, termasuk kasus pajak Bakrie dan Setya Novanto, sama sekali tidak mengubah pendirian Golkar. "Golkar tetap pada pendiriannya. Tidak akan terpengaruh," ujarnya.

Modus pemunculan kembali kasus lama, kata Agun, membuat dirinya meragukan proses penegakan hukum di Indonesia. Politikus ini meminta agar pajak tidak digunakan sebagai alat untuk menzalimi rakyat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau